
Yohanes 18:3-5a, 6b-8
3 Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
4 Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?”
5 Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” ………………….
6 …………Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
7 Maka Ia bertanya pula: “Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: “Yesus dari Nazaret.”
8 Jawab Yesus: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.”
Ada satu bagian dalam kisah di Getsemani yang membuat saya merinding. Saat Yesus berkata, “AKULAH DIA” lalu para prajurit yang hendak menangkap-Nya mundur dan jatuh ke tanah. Mengapa? Karena Yesus baru saja menggunakan Nama Allah, “AKULAH DIA”—dan Ia menggunakannya untuk diri-Nya sendiri. Kuasa yang terkandung dalam Nama itu begitu besar hingga mereka terpental ke belakang.
Saya bertanya-tanya bagaimana perasaan mereka setelah itu. Jika saya ada di sana, saya pasti ketakutan setengah mati. Menangkap seseorang yang memiliki kuasa ilahi—menangkap Allah sendiri? Dan tetap saja, entah bagaimana mereka berhasil melakukannya—setelah Yesus sendiri memerintahkan mereka untuk membiarkan para murid-Nya pergi.
Jika ada satu momen dalam kisah ini yang menunjukkan kepada kita siapa Yesus sebenarnya, inilah momen itu. Dia adalah Allah sendiri. Dia adalah Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, membebaskan kita dengan mengorbankan nyawa-Nya sendiri—dan bangkit kembali pada hari ketiga.
KITA BERDOA: Tuhan, aku tahu bahwa Engkau adalah Allah. Terima kasih karena Engkau telah menjadi Juruselamatku. Amin.
Pertanyaan Refleksi:
- Menurutmu, apakah ada prajurit yang mengalami mimpi buruk setelah kejadian itu?
- Apakah mereka melaporkan hal ini kepada atasan mereka, imam-imam kepala?
- Mengapa Yesus begitu menekankan kepada mereka siapa yang sedang mereka hadapi?
Renungan Prapaskah ditulis oleh Dr. Kari Vo.
