Kami Berdoa dengan Rendah Hati

Berikut lirik dari lagu Pujian “Lord Jesus Christ, we humbly Pray” No. 623 dalam Lutheran Service Book yang sudah kami terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia :


“Oleh iman, firman-Mu telah membuat kami berani meraih anugerah kasih yang kembali dikisahkan; Segala yang Kau miliki kami terima di sini, dan seluruh keberadaan kami kami persembahkan kepada-Mu. Satu roti, satu cawan, satu tubuh kami, bersukacita dalam kesatuan kami, Kami memberitakan kasih-Mu hingga Engkau datang untuk membawa pulang orang-orang yang Kau kasihi yang tercerai-berai.”


Saat kita bertumbuh dalam iman, kita belajar pentingnya kelemahlembutan dan kerendahan hati. Tuhan kita berkata bahwa orang yang lemah lembut diberkati. Mereka akan mewarisi bumi. Kita dipanggil untuk merendahkan diri di bawah tangan Allah, yang akan meninggikan kita pada waktu-Nya yang tepat. Inilah sikap hati saat kita mendekati meja Tuhan untuk menerima tubuh dan darah-Nya. Kita datang dengan lemah lembut dan pertobatan yang rendah hati, menyadari bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan. Lagu pujian ini juga menunjukkan sikap lain dalam menyambut Perjamuan Kudus:“Oleh iman, firman-Mu telah membuat kami berani meraih anugerah kasih yang kembali dikisahkan.”

Kita menerima Sakramen Kudus dengan hormat dan kerendahan hati, namun sekaligus dengan iman yang berani. Setiap kali kita menerima Sakramen, kita mendengar firman Yesus dan berpegang teguh pada janji-Nya: “Inilah tubuh-Ku … inilah darah-Ku” (Matius 26:27-28). Kita tidak mampu memahami misteri kehadiran Yesus dalam Sakramen, tetapi kita percaya kepada Firman-Nya.


Martin Luther berbicara tentang iman yang berani ini dalam Katekismus Kecil dengan Penjelasan. Menjawab pertanyaan tentang siapa yang layak menerima Sakramen Perjamuan Kudus, Luther menulis: “Orang yang benar-benar layak dan siap adalah orang yang percaya kepada kata-kata ini: ‘Diberikan dan dicurahkan bagimu untuk pengampunan dosa’” (hal. 29).
Kita menerima tubuh dan darah Yesus saat kita mengambil bagian dalam Sakramen, seperti yang dinyatakan dalam lagu pujian: “Segala yang Kau miliki kami terima di sini.”

Dengan iman yang rendah hati sekaligus berani, kita percaya bahwa Yesus hadir dalam Perjamuan Kudus. Ia memberikan diri-Nya bagi kita, dan kita mempersembahkan kembali hidup kita kepada-Nya. Di meja Perjamuan, kita datang bersama sebagai satu roti, satu cawan, satu tubuh—bersukacita dalam kesatuan kita. Kita mendengar kembali “kasih yang dikisahkan ulang”, perkataan berharga yang Yesus ucapkan saat memberikan tubuh dan darah-Nya kepada para murid, dan kini juga kepada kita.


Saat kita meninggalkan meja Tuhan, kita berdoa agar Roh Kudus menjadikan kita saksi yang berani, menceritakan kisah Yesus kepada orang lain. Dengan keberanian, kita datang ke takhta Allah dalam doa, yakin bahwa Dia mendengar dan menolong kita. Oleh kasih karunia Allah, kita berani berharap ketika menerima Perjamuan Kudus dan memberitakan kematian-Nya sampai Ia datang kembali.

DOA KITA:
Tuhan dan Juruselamat, tuntunlah aku untuk berani dalam iman, dalam doa, dan dalam pengharapan. Amin.

(Ditulis oleh Dr. Carol Geisler, berdasarkan lagu pujian “Lord Jesus Christ, We Humbly Pray”, No. 623 dalam Lutheran Service Book)

Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah kamu mengenal seseorang yang rendah hati secara alami, tetapi tetap kuat dalam karakter?
2. Mengapa kerendahan hati sejati seringkali sulit dimiliki oleh banyak orang?
3. Bagaimana fakta bahwa Yesus telah menyerahkan hidup-Nya bagi kita dapat menginspirasi kerendahan hati dalam karakter dan keberanian untuk membagikan kisah-Nya kepada orang lain?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top