
Catatan untuk pembaca: Ini adalah bacaan alternatif dari Three Year Lectionary, dan mungkin tidak sama dengan bacaan yang digunakan di gereja Anda pada hari Minggu ini.
Galatia 2:1-7a, 8b, 9 – 10
1 Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga.
2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi — dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang —, supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.
3 Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.
4 Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita.
5 Tetapi sesaat pun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.
6 Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu — bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka — bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.
7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil…..
8 — untuk orang-orang yang tidak bersunat.
9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;
10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
Saya tidak heran bahwa konflik besar pertama dalam gereja Kristen yang masih bayi berkaitan dengan hukum Allah. Karena sejak awal, kita selalu bergumul dengan pertanyaan ini: Apakah Yesus cukup untuk menyelamatkan kita, ataukah kita harus menambahkan sesuatu kepada-Nya?
Ketika Dia menderita dan mati di kayu salib—dan bangkit dari kematian!—apakah benar semuanya sudah selesai? Apakah kita benar-benar aman di tangan Allah hanya karena Yesus, atau masih ada syarat lain?
Di sini, yang diperdebatkan adalah hukum Yahudi. Tapi Anda akan mendengar argumen yang sama hingga hari ini, hanya dengan bahasa yang berbeda:
- Apakah kita butuh Yesus dan hal lain?
- Yesus dan hidup yang kudus?
- Yesus dan sikap politik yang benar?
- Yesus dan pengalaman rohani tertentu untuk membuktikan kita sungguh-sungguh Kristen?
Atau, apakah Yesus saja cukup?
Yesus cukup. Paulus tahu itu—dan karena itulah ia begitu tegas dan berjuang keras agar Injil yang sejati tetap berada di tangan kita. Dua ribu tahun umat Kristen juga tahu bahwa ketika Yesus berkata, “Sudah selesai,” di salib, Dia berkata jujur—dan sekarang serta untuk selama-lamanya, siapa pun yang percaya kepada Yesus untuk pengampunan dan keselamatan akan menerima segala yang mereka butuhkan: pengharapan, sukacita, damai dengan Allah, dan hidup yang kekal.
Semua ini adalah pemberian cuma-cuma dari tangan Yesus—tangan yang selamanya memikul luka salib kasih-Nya bagi kita.
Yesus adalah sukacita kita, Juruselamat kita, dan jalan kita kepada Bapa—karena kita akan hidup di dalam Dia untuk selamanya.
DOA KITA:
Yesus yang terkasih, jangan biarkan aku menambahkan apa pun pada apa yang telah Engkau kerjakan bagiku. Biarlah Roh-Mu memberi aku iman sejati dan sukacita di dalam Engkau selamanya. Amin.
(Ditulis oleh Dr. Kari Vo)
Pertanyaan Refleksi:
- Menurutmu, mengapa orang cenderung ingin menambahkan persyaratan tambahan dalam iman kepada Yesus?
- Apa yang terjadi pada iman kita jika kita menambahkan sesuatu pada karya keselamatan Yesus?
- Apa yang kamu rasakan saat benar-benar mempercayai bahwa Yesus sudah menangani segalanya untukmu?
