
Lukas 10:25a, 29b-37
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, …………….
29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Awal cerita ini cukup membuat saya tertawa. Seorang ahli Taurat berdiri untuk “mencobai Yesus.” Tapi seperti biasa, saat seseorang mencoba menjebak Yesus, justru merekalah yang akhirnya diuji! Dan itulah yang terjadi di kisah ini.
Pertama-tama, Yesus dan ahli Taurat itu berdiskusi soal bagaimana seseorang bisa memperoleh hidup yang kekal. Tapi kemudian si ahli Taurat merasa tidak nyaman—dan ia mencoba “membenarkan dirinya” dengan bertanya: “Siapa sesamaku?”
Pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan yang sering kita dengar hari ini: “Siapa yang benar-benar harus saya pedulikan? Siapa yang bisa saya abaikan tanpa rasa bersalah?”
Lalu Yesus menceritakan kisah orang Samaria yang baik hati—dan di akhir cerita, Dia malah balik bertanya:
“Siapa yang menjadi sesama bagi orang yang dirampok itu?”
Perhatikan, topiknya berubah total! Bukannya bertanya siapa yang wajib kita kasihi, Yesus justru bertanya: “Apakah kamu sendiri sudah menjadi sesama?” Dan akhirnya, Yesus memerintah: “Pergilah, dan lakukanlah demikian.”
Kepada siapa? Kepada siapa pun yang kita jumpai membutuhkan pertolongan—bahkan orang yang biasanya kita anggap jauh atau asing.
Dan itulah yang Yesus lakukan lebih dulu kepada kita.
Kita semua—sebagai manusia yang berdosa dan hancur dalam dunia yang rusak—adalah seperti orang yang tergeletak setengah mati di pinggir jalan. Dan Yesus adalah satu-satunya yang berhenti untuk menolong. Ia tidak hanya menyapa dari jauh—tapi datang dekat, menyentuh luka kita, mengangkat kita, dan membayar lunas dengan nyawa-Nya sendiri di kayu salib. Dia menyelamatkan kita bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan pengorbanan terbesar.
Yesus adalah bukti nyata bahwa Allah mengasihi kita. Dia adalah Tuhan sendiri, yang datang dari surga untuk menjadi Tetangga terdekat kita—dan Penyelamat jiwa kita.
KITA BERDOA:
Yesus, Juruselamatku, tolong aku untuk menjadi sesama bagi siapa pun yang Kau kirim dalam hidupku. Amin.
Ditulis oleh: Dr. Kari Vo
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah ada orang-orang tertentu yang sulit saudara kasihi? Mengapa?
- Ceritakan satu momen ketika seseorang peduli padamu—padahal kamu tidak mengharapkannya.
- Mintalah Tuhan mengirim seseorang yang bisa kamu bantu dan kasihi demi kasih kepada Yesus.
