Aku Percaya

Mazmur 27:13-14

13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!
14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

“Cepatlah dan tunggu” sering kali menjadi sesuatu hal yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kita sepertinya selalu menunggu sesuatu. Kita menunggu janji bertemu atau menunggu lampu lalu lintas berubah dari merah ke hijau. Kita mengharapkan hujan datang dan, ketika hujan turun, kita menunggu cuaca kembali cerah. Kita menunggu dengan antusias kunjungan dari teman atau anggota keluarga. Kita bisa menunggu dengan semangat ataupun dengan ketidaksabaran dan kecemasan. Mazmur ini berbicara tentang jenis penantian yang berbeda yang dimulai dengan kata-kata, “Aku percaya.”

Kata-kata “Aku percaya” berakar kuat pada janji dan kebaikan Allah. Jenis penantian yang disertai iman ini dilakukan dengan keberanian dan keyakinan karena kita sedang menantikan TUHAN. Pemazmur percaya bahwa ia “akan melihat kebaikan TUHAN.” Kebaikan Allah diantisipasi dalam banyak mazmur, contohnya: “Aku berkata kepada TUHAN: ‘Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau’” (Mazmur 16:2) atau “Sesungguhnya, kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6).

Itulah cara Allah dalam kasih karunia-Nya memilih untuk bertindak terhadap kita—dengan kebaikan. Dalam masa kesusahan dan dukacita mungkin sulit membayangkan bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang baik dalam hidup kita. Namun bahkan saat itu pun Allah sedang bertindak dalam kebaikan ketika Dia memberikan kepada kita damai sejahtera-Nya dan, sesuai dengan janji-Nya, bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Ketika kita menyimpang dari jalan-Nya, dalam kebaikan dan kasih karunia-Nya, Allah memanggil kita untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan dengan murah hati mengampuni kita.

Bersama dengan pemazmur kita dapat dengan yakin, menyatakan iman kita dalam kebaikan Allah. Dengan mata iman kita melihat kebaikan-Nya bersinar dalam kegelapan di Jumat Agung, ketika Yesus menderita menggantikan kita, menanggung hukuman mati yang kita layak terima karena dosa-dosa kita. Kita melihat kebaikan Allah yang dinyatakan dalam cahaya fajar pagi Paskah pertama ketika Yesus bangkit dari kematian untuk kembali berjalan di negeri orang-orang yang hidup.

Dengan iman dalam Tuhan kita yang disalibkan dan bangkit, kita percaya bahwa kita akan melihat kebaikan-Nya, sekarang dan selamanya. Dalam kehidupan duniawi ini, di negeri orang-orang yang hidup ini, kita mengenal kebaikan TUHAN. Kita menikmati dunia yang telah diciptakan Allah. Kita menerima karunia Firman dan Sakramen-Nya dan mengalami kebaikan besar dalam persekutuan bersama saudara-saudari kita di dalam Kristus. Kita merasakan kebaikan berupa penghiburan dan damai sejahtera Allah pada hari-hari yang penuh kesusahan. Akhirnya, kita akan menikmati kebaikan TUHAN ketika kita melihat Dia muka dengan muka dan berjalan bersama-Nya untuk selama-lamanya.

KITA BERDOA:

Tuhan, aku percaya bahwa aku akan melihat kebaikan-Mu, baik dalam hidupku sekarang maupun selamanya di hadirat-Mu. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.

Pertanyaan Refleksi:

1. Mengapa iman kita kepada Allah sangat penting dalam hubungan kita dengan-Nya?
(Bacalah Ibrani 11:6; 2 Korintus 5:6-9.)

2. Bagaimana imanmu memberdayakanmu untuk menghadapi tantangan hidup?

3. Dapatkah saudara memberikan contoh saat imanmu memberimu lebih banyak kesabaran, ketekunan, dan belas kasih?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top