
Pengkhotbah 1:2, 12-14
2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
12 Aku, Pengkhotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem.
13 Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit. Itu pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri.
14 Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Pengkhotbah 2:18-20, 22-25
18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.
19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.
20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?
23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia.
24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.
25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?
Kita tidak tahu secara pasti siapa penulis Kitab Pengkhotbah, meskipun secara tradisional dikaitkan dengan Salomo. Tapi siapa pun dia, jelas sekali bahwa ia sedang merasa sangat frustrasi.
Inilah seorang manusia yang mencoba melihat dunia dengan akal dan filsafat terbaik yang bisa ia miliki—dan tetap saja semua itu tidak cukup. Satu-satunya secercah harapan muncul saat ia menyebut Allah, dan ia berkata, “Tanpa Dia, siapa yang dapat makan dan siapa yang dapat menikmatinya?” Itu benar sekali. Cobalah jatuh sakit karena gangguan pencernaan, dan lihat seberapa besar kenikmatan yang masih bisa kamu rasakan dari hidup!
Jadi bagaimana jika kita mengikuti secercah harapan kecil itu dan berpaling kepada Allah? Apakah ada harapan bagi kita di sana? Apakah hidup kita punya makna? Karena Yesus, jawabannya adalah: Ya.
Kita tidak bisa memperbaiki dunia yang rusak ini atau hidup kita yang penuh kepatahan. Tapi Allah bisa—dan itulah alasan mengapa Dia datang ke dunia sebagai Manusia dalam diri Kristus Yesus. Dia adalah makna, harapan, dan hidup itu sendiri, yang datang ke dunia kita untuk mengubahnya selamanya—karena sekarang hidup kita sungguh berarti. Hidup kita penting bagi-Nya, dan kita tahu itu karena Dia rela menyerahkan nyawa-Nya untuk kita—menderita, mati, dan bangkit dari kematian—semuanya untuk menjadikan kita milik-Nya.
Kita tidak akan pernah menemukan jawaban dari permasalahan kita hanya di dalam dunia ini. Tapi kita menemukan segala yang kita butuhkan di dalam Yesus, yang datang kepada kita dari luar dunia ini—supaya kita juga bisa keluar dari perangkap hidup yang tanpa makna dan menemukan hidup yang benar-benar berarti di dalam Kerajaan-Nya.
KITA BERDOA:
Tuhan, Engkaulah yang memberikan makna bagi hidupku. Tetapkan mata dan hatiku senantiasa tertuju kepada-Mu. Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
1. Bagian mana dari hidupmu saat ini yang terasa sia-sia atau membuang waktu?
2. Saat saudara merasa frustrasi, bagaimana saudara biasanya menghadapinya?
3. Bagaimana Yesus membawa perbedaan nyata dalam frustrasi yang saudara alami?
