
2 Korintus 4:7-10
7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.
10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Saya suka cara Paulus menggambarkan kita sebagai orang Kristen. Ia menyebut kita “bejana tanah liat.” Bejana tanah liat itu benda yang berguna—kita bisa menaruh banyak hal di dalamnya. Saya tidak mungkin membawa air dengan tangan kosong, atau menyimpan anggur di dalam keranjang!
Namun, kita semua tahu bahwa bejana tanah liat tidaklah kuat. Cukup sekali terjatuh, maka ia akan pecah. Dan manusia pun seperti itu—pikiran kita rapuh, tubuh kita pun rapuh. Kadang saya heran, bagaimana kita bisa bertahan sampai usia lanjut, mengingat betapa mudahnya kita mengalami masalah.
Paulus juga tahu itu. Tetapi, ia lebih tahu lagi bagaimana Allah memakai kita untuk membawa Kabar Baik-Nya ke dunia. Kita adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus, Anak Allah yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk membawa kita kembali kepada Allah—bukan lagi penuh dosa dan rasa malu, melainkan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi dan diampuni. Kita hidup karena Yesus sendiri telah bangkit dari kematian, dan Dialah sumber hidup kita. Sekarang, bejana tanah liat kita dipenuhi dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri.
Atau lebih tepatnya, dipenuhi oleh Seseorang—karena Yesus telah memberikan Roh Kudus untuk tinggal di dalam kita dan melaksanakan rencana-Nya. Roh Kudus adalah Allah sendiri yang hidup di dalam kita—dan itu adalah anugerah terbesar yang bisa kita bawa. Cahaya-Nya bersinar melalui retakan-retakan kita, air hidup-Nya mengalir keluar untuk menyegarkan orang-orang di sekitar kita yang haus. Dan jelas sekali, itu bukan berasal dari diri kita—kita hanyalah bejana tanah liat.
Saya ingat, ada beberapa kali teman saya yang belum percaya datang diam-diam dan bertanya, “Apa yang kamu punya, yang aku nggak punya? Aku memperhatikanmu, dan waktu peristiwa itu terjadi, aku lihat kamu punya sesuatu yang membuatmu bisa bertahan. Aku mau itu.” Tentu saja, saya memberitahu mereka tentang Yesus—dan saya sendiri heran. Karena ketika saya mengingat kembali peristiwa itu, yang saya lihat hanyalah kelemahan dan kekurangan saya. Saya tidak melihat Allah di situ. Tapi mereka melihat-Nya.
Mungkin ini juga pernah terjadi pada saudara. Atau mungkin saudara baru akan mengetahuinya pada Hari Penghakiman nanti, bagaimana Allah memakai hidup saudara. Tidak masalah. Jika saudara adalah seorang Kristen, saudara adalah bejana tanah liat milik Allah—dan berguna di tangan-Nya, bahkan ketika saudara merasa tidak demikian.
KITA BERDOA: Tuhan, pakailah aku menjadi alat-Mu. Aku mengasihi-Mu. Amin.
Renungan ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Adakah problem dalam hidup saudara yang mengganggu saudara?
- Bagaimana Allah memakai problem itu untuk memberkati orang lain?
- Siapa yang pernah Allah pakai untuk membawa Kabar Baik dan berkat dalam hidupmu?
