
Hakim-hakim 6:14
Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!”
Alkitab memberi kita gambaran tentang Allah—dengan cara yang bisa kita pahami. Dia adalah Allah yang penuh kasih yang nyata dalam tindakan. Kitab Suci juga tidak “memoles” atau menutupi kelemahan tokoh-tokoh manusianya. Mereka adalah orang-orang nyata—sama seperti saudara dan saya: penuh kelemahan, ketakutan, dan selalu mencari cara untuk menghindar dari tanggung jawab kalau bisa.
Kisah hari ini tentang Gideon, seorang petani yang kemudian menjadi jenderal, yang kisahnya ada di Hakim-hakim 6–8. Orang Israel, setelah meninggalkan Allah mereka, diserahkan ke tangan orang Midian selama tujuh tahun. Setiap tahun, orang Midian dan Amalek datang menyerang, mendirikan perkemahan melawan mereka, merampas hasil panen, dan menghancurkan tanah mereka.
Saat itu, malaikat TUHAN menampakkan diri kepada Gideon dan berkata, “TUHAN menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah perkasa” (Hakim-hakim 6:12b). Gideon segera menjawab, “Ah, Tuhanku, dengan apakah aku dapat menyelamatkan orang Israel? Sesungguhnya kaumku adalah yang paling lemah di antara suku Manasye, dan aku adalah yang paling muda di rumah ayahku” (Hakim-hakim 6:15b).
Ironi ilahi dari pernyataan ini sangat jelas bagi petani Ibrani ini. Semua saudara laki-lakinya telah gugur dalam usaha yang berani untuk melepaskan diri dari penindasan orang Midian. Yang tersisa hanyalah orang-orang yang sudah kalah dan ketakutan—dan Gideon adalah contoh utama dari kelompok itu.
Namun, Allah punya rencana lain untuk Gideon. “Tetapi Aku akan menyertai engkau, dan engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis” (Hakim-hakim 6:16b). Gideon dan para pengikutnya menghancurkan mezbah Baal dan tiang berhala Asyera. Dengan pasukan hanya 300 orang yang berdedikasi, Gideon mengalahkan tentara besar gabungan orang Midian, Amalek, dan bangsa-bangsa lainnya.
Bukan berarti Gideon tidak ragu di sepanjang jalan. Dia butuh tanda-tanda, arahan, dan keberanian—dan Allah memberikannya berlimpah-limpah. Gideon memimpin kemenangan Israel, tetapi seperti biasa sifat manusia yang mementingkan diri sendiri, kesombongan akhirnya muncul.
Dari hasil jarahan perang, Gideon membuat ephod—semacam benda untuk disembah—dan bangsa Israel, seperti biasanya, jatuh ke dalam penyembahan itu. “Kemudian Gideon membuat efod dari emas itu dan menaruhnya di kotanya, di Ofra. Lalu seluruh Israel berzina di sana dengan menyembahnya, dan itu menjadi jerat bagi Gideon dan keluarganya” (Hakim-hakim 8:27).
Sayangnya, Gideon lupa siapa Pahlawan yang sesungguhnya, begitu pula bangsa itu. Kapan kita akan belajar untuk memberikan segala kemuliaan kepada Allah dan bergantung pada Dia untuk kasih karunia dan kebaikan-Nya? Itu memang tidak mudah. Itu bertentangan dengan sifat kita yang selalu ingin menempatkan diri sendiri di pusat perhatian.
Tetapi kita punya teladan yang jauh lebih besar daripada Gideon, bukan?
Yesus, Anak Allah yang tunggal, berperang dalam peperangan yang tidak mungkin bisa kita menangkan—melawan dosa, maut, dan iblis. “Ia [Allah] melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum, dalam kemenangan-Nya atas mereka di dalam Kristus” (Kolose 2:15). Dan kemenangan ini tersedia bagi kita semua. “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yohanes 5:4).
Jika ada sesuatu yang benar-benar heroik dalam hidup ini, itu adalah hidup dalam iman. Ini membutuhkan keberanian sejati—keberanian yang hanya Allah berikan dengan limpah di dalam Anak-Nya. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).
KITA BERDOA: Bapa Surgawi, berikanlah kami hati yang berani untuk hidup dengan berani bagi-Mu. Dalam Nama Yesus. Amin.
Renungan Harian ini diambil dari khotbah “Gideon: Sang Petani yang Menjadi Jenderal” oleh Pdt. Dr. Oswald Hoffmann, mantan Pembicara The Lutheran Hour.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah lebih masuk akal (lebih meyakinkan) bahwa Alkitab menggambarkan tokohnya dengan kelemahan, masalah, dan sikap negatif? Apakah ini mirip dengan kehidupan nyata dari orang-orang yang saudara kenal
- Mengapa menurut saudara, Allah memilih Gideon untuk tugas berat memimpin perang?
- Sifat-sifat kepahlawanan apa yang saudara lihat dalam diri Yesus?
