
Renungan ini terhubung dengan khotbah Lutheran Hour akhir pekan ini, yang bisa didapat di lhm.org.
Bilangan 6:23b-27
23 “…………….Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”
Ketika saya berusia 11 tahun, untuk Natal, orangtua memberi saya dan kakak saya tas baru—model tas kerja dari kain kanvas dengan tali bahu. Dan di setiap tas itu, nama lengkap kami disulam dengan benang putih: nama depan, nama belakang, dan inisial nama tengah. Itu bukan hadiah yang kami inginkan. Kami sebenarnya ingin Nintendo. Kami memang mendapatkannya kemudian, dan awalnya itu sangat menyenangkan. Tapi dalam satu-dua tahun, Nintendo itu ketinggalan zaman dan akhirnya rusak. Tas-tas itu jauh lebih awet—dan punya cerita yang lebih berkesan. Tas itu juga membuat kami menonjol, meskipun bukan karena dianggap keren. Itu hanya tas kerja, toh. Kami biasanya menjelaskan dengan agak malu, “Ayah kami tentara. Dia sedang TDY—artinya temporary duty (tugas sementara). Dia seorang executive officer dari seorang jenderal bintang empat, dan waktu dinas ke luar negeri, ayah membelikan tas ini untuk kami. Bahkan nama kami disulam di situ.”
Alkitab menceritakan bagaimana Allah menjadi Bapa kita. Bukan karena Dia butuh kita, tapi karena Dia memutuskan bahwa kita layak untuk dimiliki-Nya. Dia ingin memberikan Nama-Nya kepada kita. Allah—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—hidup dalam kebersamaan yang penuh sukacita kekal, lalu Dia menciptakan kita, mengklaim kita, dan siap melakukan segala sesuatu agar kita ingin hidup sesuai dengan Nama-Nya. Tetapi tak lama dalam kisah itu, kita justru sibuk membuat nama untuk diri kita sendiri—berpura-pura, berusaha terlihat hebat, memanipulasi. Maka Allah mengutus Anak-Nya, Yesus, untuk menyelamatkan kita, memanggil kita kembali ke tempat di mana kita seharusnya berada.
Namun ketika Yesus datang, Dia bukanlah sosok yang kita harapkan. Kita menolak-Nya, bahkan menyalibkan-Nya. Malu, kita tercerai-berai seperti domba, berusaha menyelamatkan sisa nama baik yang kita kira masih ada. Tapi Allah tetap setia. Bapa membangkitkan Anak-Nya dari kematian. Dia menunjukkan bahwa bagi-Nya, kita masih anak-anak yang layak dimiliki. Yesus bangkit untuk memberikan Nama Allah kepada kita.
Hari ini saya berbicara kepadamu sebagai bagian dari keluarga itu—keluarga yang diklaim dan dinamai oleh Yesus, Anak Allah. Saya seorang Kristen. Itulah bangsaku, itulah keluargaku. Bertahun-tahun lalu, para pengikut Yesus—termasuk orangtua saya—membaptis saya. Seperti perintah Yesus, mereka membaptis saya dalam Nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Mereka menaruh Nama Allah pada diri saya.
Hal terbaik dari tas kerja bersulam itu, bagi saya dan kakak saya, adalah karena ayah juga punya tas yang sama—dengan sulaman nama keluarga yang sama. Setiap hari ia membawanya ke kantor. Ketika seseorang menaruh namanya padamu, artinya dia sudah mengklaimmu. Dia memutuskan bahwa kamu layak dimiliki. Allah menginginkan hal itu bagimu. Dalam Baptisan, Ia menyulammu ke dalam kain kehidupan-Nya sendiri dan membawa serta dirimu setiap hari. Ia memberikan Nama-Nya kepadamu—untuk kamu percayai, kamu panggil, kamu andalkan, dan dengan anugerah-Nya, untuk kamu hidupi.
KITA BERDOA: Bapa yang baik, tolonglah aku agar tidak pernah malu dengan Nama keluarga kami. Dalam Nama Yesus. Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, Pembicara untuk The Lutheran Hour.
Pertanyaan untuk direnungkan:
- Pernahkah saudara merasa malu dengan nama keluargamu?
- Kapan saudara merasa bersyukur atas nama keluargamu?
- Hari ini, bagaimana cara saudara hidup sesuai dengan nama “Kristen”?
