
Lukas 16:19-23a, 24-25a, 26b-31
19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut …………….
24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ……………..
26 di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
Orang kaya itu mengucapkan hal yang sering sekali didengar: “Alkitab tidak cukup. Kalau Tuhan sungguh mau orang percaya kepada-Nya, Dia harus membuat mujizat. Baru kami akan percaya.”
Sekilas terdengar masuk akal—dan mungkin saya sendiri juga bisa mempercayainya—kalau saja saya tidak melihat kebalikannya dengan mata kepala sendiri. Ada seorang di komunitas kami, bukan orang Kristen, yang disembuhkan setelah kami berdoa baginya. Ia menjadi sangat religius, penuh semangat, dan menceritakan kisah mujizatnya ke mana-mana. Tetapi imannya itu hanya bertahan enam minggu. Setelah itu, seolah-olah semuanya tak pernah terjadi—meskipun kami tetap bersahabat sampai akhir hidupnya.
Masalahnya ada pada sifat manusia. Kalau kita memang ingin menolak, selalu ada alasan untuk tidak percaya. Kita bisa berkata, “Itu cuma halusinasi. Orang bisa saja gampang terpengaruh. Mungkin hanya cerita yang dibuat-buat. Bisa saja orang salah lihat. Atau mungkin Yesus sebenarnya tidak benar-benar mati.”
Yesus benar. Kalau Roh Kudus memberi kita anugerah iman, Alkitab saja sudah lebih dari cukup. Tetapi kalau kita menolak-Nya, tak ada mujizat sebesar apa pun yang sanggup memaksa kita untuk percaya.
Syukurlah, Tuhan tidak membiarkan kita bergumul sendirian dengan hati yang keras dan keras kepala. Allah sudah memberikan Alkitab, benar. Tetapi Ia juga telah datang sendiri ke dunia, menjadi Juruselamat kita lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus telah memberikan Roh Kudus-Nya, yang sanggup membuka mata kita dan menumbuhkan iman sejati, bahkan dalam hati kita sekalipun! Dan bersama Dia bekerja di dalam hati kita, kita sungguh dapat percaya pada akhirnya—percaya kepada Yesus Tuhan kita, yang telah bangkit dari antara orang mati untuk memberi kita hidup.
DOA: Tuhan, tolong atasi keraguanku dan jadikan aku sungguh mengenal serta percaya kepada-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Pernahkah saudara menyaksikan sebuah mujizat—atau sesuatu yang mungkin mujizat?
- Jika ya, pengaruh apa yang ditimbulkan pada orang-orang yang melihatnya? Bertahan berapa lama?
- Apa yang menuntunmu untuk percaya kepada Yesus? Mengapa?
