
Bilangan 9:18, 20
18 Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.
20 Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat.
Saya tumbuh dalam keluarga militer. Kami pindah rumah sebanyak 11 kali sebelum saya lulus SMA. Kadang pindah itu terasa menyenangkan. Kadang pula menyedihkan, karena harus melepaskan tempat lama dan orang-orang yang sudah dikenal. Dan sering juga saya tidak tahu apa yang menanti di tempat yang baru. Tetapi kira-kira pada perpindahan kesembilan, di sebuah jalan raya di Midwest, saya mendapat sebuah kesadaran. Saat itu, mama baru saja mengajak kami main “permainan alfabet.” Pernah main? Itu lomba mencari huruf A sampai Z dari papan-papan jalan yang dilewati—“H” dari highway, “I” dari I-Hop, “J” dari Junction City, dan seterusnya. Saya tidak ingat siapa yang menang (mungkin mama). Tapi saya ingat dengan jelas satu hal: saya merasa seperti sudah di rumah, bahkan di tengah perjalanan. Kami masih dalam perjalanan, tetapi entah bagaimana, saya sudah merasa berada di rumah.
Mungkin kamu tinggal di alamat yang sama sepanjang hidupmu. Tapi cepat atau lambat, kita semua akan pindah juga—melintasi kota, melintasi laut, atau mungkin hanya melintasi jalan. Saat pindah, biasanya kita tidak tahu apa yang akan dihadapi. Tapi dari situ kita mulai lagi, bertumbuh, dan menjadi pribadi baru. Kalau kita tidak pernah bergerak, tidak pernah berubah, tidak pernah dipaksa untuk beradaptasi, kita bisa mandek, kaku, dan terjebak. Kadang obat terbaik adalah sekadar bergerak. Seperti kata para fisioterapis, “Gerakan itu obat. Bergerak itu melenturkan.”
Dalam Alkitab, umat Tuhan hampir selalu digambarkan sedang bergerak—keluar dari Taman Eden, keluar dari Mesir, menuju Tanah Perjanjian, dari salib di luar Yerusalem, dari kubur kosong, diutus Yesus yang bangkit untuk menjadi saksi-Nya di Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi. Tuhan seolah tidak pernah membiarkan umat-Nya diam terlalu lama. Tetapi gerakan yang paling penting bagi Allah bukanlah geografis, melainkan relasional.
Allah menciptakan kita untuk bergerak mendekat kepada-Nya dalam iman—iman yang adalah karunia-Nya. Allah menciptakan kita untuk bergerak mendekat kepada sesama dalam kasih—kasih yang sama yang sudah Dia berikan kepada kita, bahkan ketika kita terjebak dalam dosa. Perjalanan yang kita semua jalani adalah keluar dari jalan buntu saat mengandalkan diri sendiri atau ciptaan lain, menuju cakrawala yang luas: mempercayai Sang Pencipta, mengikuti pimpinan-Nya, mengasihi seperti Dia mengasihi. Dan “kendaraan” yang membawa kita dalam perjalanan itu adalah Firman—Yesus, Firman Allah yang telah “berkemah” di tengah-tengah kita (Yohanes 1:14).
Kalau kita perhatikan, dalam bacaan Alkitab hari ini frasa “atas perintah Tuhan” muncul empat kali. Dalam teks aslinya, bahasa Ibrani memakai ungkapan “mulut Tuhan.” Jadi bukan hanya sekadar perintah, tetapi mulut Tuhanlah yang menuntun mereka. Itu memang mencakup perintah, tetapi lebih dari itu. Suara Allah yang menyertai umat-Nya dalam perjalanan di padang gurun juga adalah jaminan, pengampunan, api yang menyucikan, janji yang memurnikan, undangan yang lembut, bahkan pekikan semangat—seperti huruf “Q” yang akhirnya muncul di papan La Quinta, tak jauh dari Junction City—menjadi rumah di tengah perjalanan, melalui Firman-Nya.
DOA: Tuhan Yesus, kepada siapakah kami akan pergi? Hanya Engkau yang mempunyai perkataan hidup yang kekal. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, Pembicara The Lutheran Hour.
Pertanyaan Refleksi:
- Jika saudara menulis kisah pendek tentang kepindahan yang paling berkesan dalam hidupmu, judul apa yang akan saudara pilih?
- Menurutmu, mengapa Allah dalam Alkitab sering membuat umat-Nya terus bergerak?
- Adakah firman Tuhan dalam Alkitab yang membuatmu merasa “sudah di rumah (nyaman)” di mana pun kamu berada?
