Hanya Allah

Mazmur 62:5-7 

5 Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 

6 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 

7 Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

Rasul Paulus memperingatkan Timotius, gembala muda itu, tentang apa yang akan dihadapi jemaat: “Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran yang sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3). Kita mengenal betul tentang “telinga gatal.” Di sekeliling kita, orang hanya mau mendengar suara-suara yang mereka sukai dan menutup telinga terhadap yang lain. Mereka menciptakan jalan rohani mereka sendiri, “kebenaran” pribadi yang mereka kira bisa memuaskan kebutuhan mereka. Kadang kita juga punya telinga gatal—lebih suka mendengar banyak suara yang tersedia begitu mudah di dunia ini, lalu memilih ajaran yang sesuai selera, entah itu berdasarkan Kitab Suci atau tidak. Suara-suara dunia terus bersaing menarik perhatian kita.

Digerakkan oleh Roh Kudus, pemazmur juga mendengarkan, tetapi ia menutup telinganya terhadap semua suara lain, berpaling dari allah-allah yang disembah orang lain dan dari godaan iblis yang menipu serta membingungkan. Pemazmur tahu siapa yang akan menjawab doanya. Ia memberi dorongan pada dirinya sendiri, semacam motivasi untuk jiwanya: “Hanya pada Allah saja, hai jiwaku, tenanglah, sebab dari pada-Nyalah harapanku.” Tidak ada yang lain yang bisa memberi jawaban dan pengharapan selain Allah. Dialah gunung batu kita, benteng kita, tempat perlindungan yang aman. Kita bisa percaya pada janji-Nya. Dialah pengharapan dan keselamatan kita, dan suatu hari kelak kita akan merasakan aman sejahtera dalam hidup kekal bersama-Nya.

“Pada Allah terletak keselamatanku.” Berabad-abad setelah pemazmur menulis kata-kata ini, seorang percaya yang setia lainnya juga sedang mencari jawaban. Allah mengutus malaikat dengan pesan yang harus didengar Yusuf dari Nazaret: Anak yang dikandung Maria, tunangannya, adalah Anak Allah. Yusuf diberi nama untuk Anak Kudus itu: “Engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21b). Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan” atau “keselamatan.” Yesuslah Pribadi tempat keselamatan kita bertumpu. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelesaikan semua yang diperlukan untuk menyelamatkan kita. Di dalam Dia kita punya pengharapan, dan kita bersukacita mendengar suara-Nya dalam Firman yang kudus. Dengan pertolongan Roh Kudus, itu adalah suara yang kita kenali sebagai suara keselamatan: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku; dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:27-28).

DOA: Ya Allah, tolonglah aku untuk menutup telinga dari suara-suara dunia yang menggoda. Hanya kepada-Mu jiwaku menanti dalam ketenangan. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Kita hidup di zaman di mana telinga kita terus “digelitik” 24 jam sehari. Bagaimana caramu menjaga diri agar tidak terhanyut oleh gempuran media, hiburan, opini, dan berbagai hal yang begitu mudah diakses?
  2. Paulus menasihati Timotius untuk “selalu bersikap tenang” (2 Timotius 4:5b) dalam hidup dan pelayanannya. Dalam hal apa saja dalam hidupmu pendekatan yang lebih tenang dan jernih akan sangat menolong?
  3. Di tengah segala gangguan dunia, hanya Allah yang menjadi gunung batu dan keselamatan kita, benteng yang tak tergoyahkan. Luangkan sejenak untuk bersyukur atas kesetiaan Allah dalam hidupmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top