Superhero

Renungan ini selaras dengan khotbah Lutheran Hour akhir pekan ini, yang dapat ditemukan di lhm.org.

Bilangan 11:29  Tetapi Musa berkata kepadanya: “Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!”

Superhero. Siapa yang menjadi favoritmu saat kecil? Batman, Spider-Man, Wonder Woman, Superman? Apa yang membuat kita tertarik pada para pahlawan super? Apakah karena kekuatan mereka yang seolah ilahi? Atau karena hidup mereka yang tampak selalu menang?

Dalam pidato wisuda di Universitas Southern California tahun 2023, Kevin Feige — presiden Marvel Studios sekaligus alumnus USC — mengingatkan para lulusan bahwa bahkan pahlawan pun adalah sosok yang penuh kelemahan dan bisa gagal. Ia berkata kurang lebih begini: tentu, kekuatan luar biasa membuat mereka “super,” tetapi yang membuat mereka menjadi pahlawan adalah hal-hal lainnya — keraguan, kegagalan, dan perjuangan mereka untuk tetap melangkah maju dengan keberanian.

Musa bisa dibilang semacam superhero dalam Perjanjian Lama — pahlawan iman. Tidak ada nabi seperti dia, namun ia juga manusia yang penuh kelemahan dan sangat membutuhkan pertolongan. Walau Allah memilih Musa untuk memimpin Israel dan menaruh Roh-Nya atasnya untuk menyampaikan firman kepada umat-Nya, Musa sering kali meragukan kemampuannya sendiri dan bahkan mengeluh kepada Allah tentang pekerjaannya di tengah bangsa yang keras kepala itu.

Apakah saudara merasa seperti pahlawan iman? Mungkin tidak. Sebab kita pun, seperti Musa, juga manusia yang penuh kekurangan. Kita bergumul dengan kesulitan, keraguan, dan kekecewaan. Kita pun mengalami kegagalan dalam hidup.

Namun, yang membuat Musa menjadi pahlawan iman bukanlah keberhasilan atau kekuatannya sendiri. Ia menjadi pahlawan karena ia menyadari betapa besar kebutuhannya akan pertolongan Allah dalam hidup dan pelayanannya. Iman Musa tidak membuatnya mengandalkan dirinya sendiri, melainkan berpegang pada janji Allah yang memberikan Roh-Nya. Musa tahu, ia tidak dapat menjalani hidup atau menjalankan panggilannya tanpa Roh Allah.

Lebih dari itu, Musa juga sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan orang lain — mereka yang juga telah menerima Roh Allah — untuk menolong dan menopangnya dalam pelayanan.

Di budaya modern, khususnya di Amerika Utara, kita sering diajarkan untuk hidup secara individualistis: “Aku bisa menghadapi hidup sendiri. Aku tidak butuh bantuan orang lain. Aku mampu menanggung semuanya sendiri.” Namun, cara ini bukanlah jalan hidup di dalam Kerajaan Allah.

Ketika Musa berseru kepada Allah meminta pertolongan untuk memimpin umat-Nya yang terus bersungut-sungut dan memberontak, Allah menaruh Roh yang sama atas 70 tua-tua Israel agar mereka dapat membantu Musa memimpin bangsa itu. Setelah tugas mereka selesai, dua orang lain yang juga dipenuhi Roh di perkemahan tetap bernubuat. Melihat hal itu, Yosua meminta Musa menghentikan mereka, tetapi Musa justru menyambut mereka dengan sukacita. Ia berkata, “Sekiranya seluruh umat TUHAN menjadi nabi, dan TUHAN menaruh Roh-Nya ke atas mereka!” Semakin banyak, semakin baik.

Melalui baptisan dalam Kristus, Allah telah berjanji memberikan Roh Kudus dan berbagai karunia bukan hanya kepada sebagian orang, tetapi kepada seluruh umat-Nya — termasuk kita masing-masing — agar kita dapat saling menolong dalam pergumulan, dalam keraguan, dan di tengah kekecewaan hidup. Kita tidak bisa berjalan sendirian. Dan kita tidak perlu berjalan sendirian.

Allah telah memberikan Roh-Nya supaya kita dapat saling menguatkan dengan Injil — dengan kabar baik, dengan kata-kata pengampunan, hidup, dan keselamatan.

DOA: Ya Bapa di surga, terima kasih karena Engkau telah mengutus Roh Kudus, Penolong yang tinggal di dalam kami. Ketika hidup terasa sulit, tolong kami agar saling mengingatkan akan firman Yesus yang memberi hidup dan keselamatan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Renungan ini ditulis oleh: Pdt. Dr. Leopoldo A. Sánchez

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apakah Superhero favoritmu berubah sejak masa kecil? Mengapa menurutmu demikian?
  2. Apa saja kelemahan Musa dalam hubungannya dengan Allah dan bangsa Israel? Dan apa yang akhirnya membuat Musa berhasil dalam pelayanannya kepada Allah?
  3. Apa yang telah Allah berikan kepada kita untuk menguatkan kita saat hidup terasa berat?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top