Yang Pertama

Kolose 1:13–20

3 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; 

14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.  

15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, 

16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. 

17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. 

18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. 

19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, 

20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Aku sungguh kagum di bagian Alkitab ini karena begitu kaya menggambarkan siapa Yesus itu. Bagaimana mungkin Paulus berhasil menuliskan begitu banyak kebenaran luar biasa tentang Yesus dalam satu bagian yang singkat? Rasanya butuh berhari-hari untuk benar-benar menelusuri maknanya!

Namun satu hal yang terus ditekankan Paulus adalah Yesus adalah yang pertama. Ia adalah Allah yang tidak diciptakan—melalui DIA segala sesuatu diciptakan, dan kepada-Nya semuanya kembali. Namun Ia juga sungguh manusia, menjadikannya yang tertinggi dan termulia di antara ciptaan. Ia adalah yang pertama dalam gereja sebagai Kepala; dan Ia juga yang pertama bangkit dari antara orang mati, yang tidak akan mati lagi. Dalam segala hal, Yesus adalah yang pertama—yang tertinggi—yang termulia.Dan kemudian kita sampai pada bagian yang begitu kontras:“… dengan darah salib-Nya Ia mengadakan pendamaian.” Karena Yesus juga menjadi yang pertama dalam hal kasih dan belas kasihan—melampaui apa pun yang bisa kubayangkan sebelum mengenal-Nya.

Yesus tahu betul harga yang harus dibayar untuk membawa kita pulang kepada Allah—namun Ia tetap melakukannya. Rasa sakit, kehinaan, ketakutan, dukacita, bahkan ditinggalkan—semuanya Ia tanggung agar kita diperdamaikan dengan Allah, diampuni, dan dikasihi. Dan Ia tidak menyesal melakukannya. Sekarang, setelah Yesus bangkit dari kematian, kita hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya.

Kita tidak akan pernah kehilangan Dia—dan Ia pun tidak akan pernah kehilangan kita. Sebab Yesus sedang memulihkan seluruh ciptaan Allah yang rusak—bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu. Dan ketika semuanya telah disempurnakan, tidak akan ada lagi air mata, kesedihan, atau kematian.

Kita akan hidup bersama-Nya dalam ciptaan yang baru, penuh sukacita dan damai. Dan di sana, kita akan merayakan Yesus—Dia yang pertama dalam segala hal, dan pertama dalam hati kita selamanya.

DOA:
Tuhan yang Mahatinggi, Engkau begitu mulia, namun Engkau rela datang dan menyelamatkanku. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apakah saudara mengenal seseorang yang “nomor satu” di bidangnya?
  2. Apakah saudara akan menyangka seseorang yang “pertama” mau merendahkan diri menjadi yang terakhir? Mengapa iya atau tidak?
  3. Mengapa Allah menyebut Yesus sebagai “Yang Dikasihi”? Apakah saudara juga menyebut-Nya demikian?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top