Raja Kasih

Lukas 23:27–29, 31–34, 35b–43

27 Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. 

28 Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!

29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.

31 Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?”

32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia. 

33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.  

35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” 

36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 

37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” 

38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”. 

39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” 

43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”


Raja seperti apakah ini—yang memerintah dari atas salib, hanya berbusana darah-Nya sendiri? Yang memakai mahkota duri, dan di kanan kiri-Nya bukan para pengawal kehormatan, melainkan para penjahat?

Ini pertanyaan penting, sebab inilah Yesus—dan Ia akan menjadi Raja kita selamanya, di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Jika Dialah yang akan memerintah alam semesta untuk selama-lamanya, kita perlu mengenal siapa Dia dan seperti apa hati-Nya.

Dan dari bagian Alkitab ini saja, kita sudah cukup untuk dihiburkan. Inilah Raja yang masih berhenti untuk menghibur orang lain ketika Ia sedang berjalan menuju kematian-Nya. Inilah Raja yang mampu mengampuni para algojo-Nya—dan bahkan memohon kepada Bapa agar mengampuni mereka juga. Inilah Raja yang memberi anugerah besar, bahkan ketika Ia sekarat dan berbicara kepada sesama orang yang sedang sekarat:
“Sesungguhnya, hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Inilah Raja yang hatinya adalah kasih—yang tidak dapat berhenti menaruh belas kasih kepada orang lain, bahkan ketika Ia sendiri sedang berada dalam penderitaan terbesar. Ia menjangkau setiap orang yang mendekat pada-Nya—dan jangkauan-Nya seluas seluruh ciptaan, bahkan lebih. Dan syukurlah, karena kasih-Nya itu menjangkau sampai kepada kita.

KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, Engkau mati dan bangkit bagi aku. Aku mengasihi-Mu, dan bersukacita menjadi milik-Mu selamanya. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Perenungan:

  1. Apakah saudara merasa khawatir ketika pemerintahan berubah dan ada pemimpin baru?
  2. Apa yang saudara harapkan dari pribadi yang memerintah alam semesta?
  3. Apakah saudara melihat semua itu di dalam diri Yesus?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top