Saksi-Saksi yang Tak Terduga

Filipi 2:5-11

5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 

6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 

10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 

11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Jika saudara pernah mendengar kisah pertobatan St. Agustinus, mungkin saudara tahu cerita ini,  ketika ia duduk di taman dengan beberapa buku di dekatnya. Konon, ia mendengar suara seorang anak—mungkin dari taman sebelah—yang berkata, “Ambillah dan bacalah.” Tidak tahu siapa yang berbicara, Agustinus kemudian mengambil sebuah buku yang ada di dekatnya—yang ternyata adalah Alkitab. Dan sejak saat itu, segalanya berubah.

Yang mungkin tidak saudara ketahui adalah bahwa sebelum pertobatannya—sebelum menjadi Uskup Hippo di Afrika Utara—Agustinus adalah sosok yang sangat duniawi. Ia sangat mahir berpidato, bahkan sampai tampil di hadapan kaum bangsawan di Milan. Ia terkenal sebagai seorang womanizer, dan sejarah mencatat ia memiliki setidaknya satu anak walau tidak pernah menikah. Kehausannya akan kesuksesan duniawi membuatnya meninggalkan rumah masa kecil, menaiki kapal dari Kartago untuk menjauh dari ibunya yang dianggap “terlalu mengekang.”

Anda mengenal ibunya, meskipun mungkin tidak menyadarinya. Namanya Monica—yang kita kenal sebagai St. Monica. Kota Santa Monica di California dinamai dari namanya.

Ia mungkin bisa disebut sebagai “orangtua yang keras kepada anak” pertama. Dalam arti tertentu, ia percaya bahwa tujuan hidupnya adalah menuntun putranya menjadi seorang Kristen. Maka, beberapa kapal kemudian, ia pun meninggalkan Afrika Utara menuju Italia, mengikuti Agustinus. Tidak lama setelah Agustinus akhirnya bertobat, ia pun meninggal dunia—seolah dapat beristirahat dengan tenang karena melihat tugas utamanya telah tercapai.

Singkatnya, kisah pertobatan St. Agustinus menunjukkan bahwa Tuhan sering memilih orang-orang yang paling tidak terduga untuk melakukan hal-hal luar biasa—terutama memberitakan Injil, yang dapat mengubah kekekalan seseorang.

saudara dan saya sama tak terduganya seperti Agustinus untuk dipilih Tuhan melakukan hal ini. Namun hal itu tidak jauh berbeda dari inti iman kita sendiri. Kisah keselamatan kita juga merupakan kisah yang tampaknya tidak masuk akal—kisah tentang Allah yang menjadi manusia, merendahkan diri sebagai hamba, bahkan menyerahkan nyawa-Nya. Siapa yang menyangka? Bahwa Allah akan menjadi manusia agar Ia bisa mati. Bahkan lebih dari itu—Yesus bangkit, naik ke surga, dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah sebagai Kristus Sang Raja yang memerintah atas segala sesuatu.

Cara Kristus menjadi Raja sama mengejutkannya dengan kenyataan bahwa Ia memilih orang-orang seperti saudara dan saya—dan seperti Agustinus serta Monica. Apa pun peran kita dalam hidup, kita dapat yakin bahwa Tuhan telah melibatkan kita dalam rencana besar-Nya untuk membawa Kabar Baik kepada seluruh dunia. Kita mungkin merasa sebagai hamba yang tidak pantas dan tidak punya banyak kemampuan, tetapi Tuhan berjanji untuk memampukan kita. Berdoalah agar minggu ini Ia menolong saudara membagikan Kabar Baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Tuhan memberikan semua ini kepada kita karena Yesus. Amin.

KITA BERDOA:


Tuhan Yesus, tolonglah aku membagikan Kabar Baik-Mu kepada seseorang yang membutuhkannya. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Rev. Dr. Chad Lakies.

Pertanyaan Perenungan:

  1. Apakah saudara memiliki seseorang seperti Monica, ibu Agustinus, dalam hidup saudara?
  2. Mengapa menurut saudara Tuhan senang memilih orang-orang yang tampaknya tidak mungkin untuk melakukan pekerjaan-Nya?
  3. Siapa seseorang yang saudara kenal secara pribadi yang menurut saudara sangat tidak mungkin datang kepada Tuhan?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top