DOMBA ALLAH
Kamis, 12 Januari 2023

Yohanes 1:29, 35-37 (TB)
29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
35 Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya.
36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!”
37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.
Pernahkah saudara benar-benar berpikir tentang gelar “Anak Domba Allah” itu? Pada zaman Yesus, anak domba disembelih untuk dikorbankan di mezbah Allah. Jika saudara telah berbuat dosa, atau jika saudara ingin memberikan persembahan khusus kepada Allah—persembahan syukur, mungkin—saudara membawa seekor domba ke bait suci. Di sana saudara akan menyerahkan anak domba itu kepada para imam. Domba itu akan disembelih, dan saudara akan diampuni. Saudara akan hidup.
Nah..anak domba itu milik saudara kan ? Saudara membelinya dengan uang sendiri. Jika saudara seorang penggembala atau pemilik tanah, mungkin saudara membesarkannya dari kawanan domba milik saudara sendiri. Itu adalah anak domba saudara, jika saya dapat mengatakannya seperti itu—bukan anak domba Allah. Milikmu adalah dosa, milikmu adalah korban, milikmu adalah anak domba.
Tapi sekarang Yohanes menunjukkan sesuatu yang berbeda. “Inilah Anak Domba Allah,” katanya. Mengapa Tuhan harus memiliki anak domba? Tuhan tidak berdosa. Tuhantidak perlu membuat persembahan untuk diri-Nya sendiri. Ah, tetapi Tuhanmemang perlu memberikan persembahan—bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kita.
Yesus adalah Anak Domba Allah karena Dia disediakan oleh Allah, bukan kita. Dia adalah bagaimana Tuhan akan membersihkan dan mengampuni semua anak-anak-Nya yang berdosa dan memberontak. Yesus akan memikul dosa-dosa kita, dan kita akan diampuni. Dia akan memberikan nyawa-Nya bagi kita, dan kita akan hidup. Dia bukan anak domba kita—kita tidak membeli Dia atau mengutus Dia. Tuhan melakukannya. Mengapa? Karena Dia mengasihi kita. Karena belas kasihan, karena Dia tidak akan berdiam diri dan melihat kita menghancurkan diri kita sendiri dengan kejahatan kita sendiri.
Perhatikan bahwa Yesus berjalan-jalan dengan bebas selama seluruh interaksi dengan Yohanes Pembaptis ini. Saya menduga domba biasa harus dituntun dengan tali, atau bahkan diikat. Tidak ada anak domba biasa yang mau masuk ke bait Allah. Mereka bisa mencium bau darah teman-temannya..
Tetapi Yesus berjalan-jalan dengan bebas. Bisa saja jika Dia tiba-tiba memutuskan Dia tidak ingin menawarkan diri-Nya untuk keselamatan kita. Dan inilah yang membuat Yesus berbeda dari semua domba lainnya. Anak Domba Allah pergi dengan rela ke altar salib. Dia tahu apa yang akan datang, dan ini adalah pilihan bebas-Nya sendiri.
Kisah Anak Domba Allah bukanlah kisah mengerikan seorang anak—ini Adalah gagasan bahwa Allah Bapa entah bagaimana membuat Yesus untuk menderita dan mati demi kita. Itu bukanlah cara kerja Trinitas. Tidak, Allah yang benar adalah Allah yang Esa—dan dalam hikmat dan kasih-Nya yang tak terbatas, memutuskan secara internal—dalam nasihat Tritunggal—apa yang harus dilakukan terhadap kita. Bapa, Putra, Roh Kudus—Tuhan yang Tiga dan Satu ini memilih cara menuju salib. Allah sendiri datang ke dunia sebagai Yesus, untuk menjadi Anak Domba yang dikorbankan itu. Dan apa yang sudah Tuhan lakukan dengan rela terhadap diri-Nya sendiri tidak dapat disalahgunakan.
ini Adalah cinta. Ini adalah belas kasihan yang rela dan penuh sukacita—Yesus memberikan diri-Nya bagi saudara dan saya. Dan sekarang Dia telah bangkit dari kematian, kita akan memiliki Dia, dan Dia akan memiliki kita, sepanjang keabadian. Syukur kepada Tuhan!
KAMI BERDOA: Terima kasih, Tuhan, karena telah memberikan Diri-Mu untukku. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
1. Menurut saudara bagaimana rasanya menjalani hari-hari ketika ibadah melibatkan pengorbanan hewan?
2. Menurut saudara, apakah Yohanes Pembaptis memahami sepenuhnya arti gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah?
3. Menurut saudara mengapa Tuhan memilih nama “ANAK DOMBA”yang menekankan ketidakberdayaan daripada kekuatan?
