
Yohanes 2:11
Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Bertahun-tahun yang lalu, sebelum menjadi seorang pendeta, saya memiliki atasan di militer yang memberikan saya tugas kecil. Tugas itu bukan bagian resmi dari pekerjaan saya, tetapi memang harus dilakukan. Atasan saya sebenarnya bisa saja mengirim email singkat atau menelepon saya untuk memerintahkannya. Namun, ia justru bangkit dari mejanya, meninggalkan kantornya, turun tangga ke kantor saya, mengetuk pintu, dan berkata, “Hei Mike, saya perlu kamu mengurus sesuatu untuk saya.” Begitulah tipe pemimpin dia. Jika memungkinkan, dia lebih memilih komunikasi langsung. Dan meskipun terkadang dia memberi saya tugas yang sulit atau merepotkan, saya melakukannya dengan senang hati karena saya percaya kepadanya.
“Percaya” di sini bukan berarti sekadar “saya setuju bahwa orang ini ada.” Tentu saja saya tahu dia ada. Namun, yang saya maksud dengan “percaya” adalah saya memiliki keyakinan padanya. Saya percaya bahwa dia peduli pada misinya dan pada orang-orangnya, serta memiliki keterampilan untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Dan percaya kepadanya berarti saya ingin terlibat dalam misinya.
Para murid Yesus disebut “orang percaya” bukan hanya karena mereka setuju bahwa Allah ada dan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Tentu saja, kita setuju dengan kebenaran itu, tetapi itu bukan inti dari menjadi orang percaya. Seperti yang dikatakan Alkitab, bahkan setan-setan pun percaya bahwa Allah itu nyata, dan fakta itu membuat mereka gemetar ketakutan (Yakobus 2:19). Ya..orang Kristen disebut percaya karena kita terlibat. Dalam Yesus, Allah turun “tangga,” menyatakan kemuliaan-Nya, dan membuat kita percaya. Sekarang kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Kita rela berkorban untuk terlibat dalam misi-Nya. Dan semakin kita terlibat, semakin dalam pula iman kita kepada-Nya; semakin percaya, semakin besar pula keterlibatan kita.
Di dunia militer, kadang-kadang dikatakan bahwa tentara tidak berperang untuk negaranya saja. Mereka tidak mengorbankan nyawa untuk sebuah birokrasi tanpa wajah. Mereka melakukannya untuk rekan mereka di parit. Dalam Allah, Yesus telah bergabung dengan kita di “parit” kehidupan. Ia datang untuk hidup, menderita, dan mati, menyatakan kemuliaan-Nya di kayu salib, bangkit kembali, memberikan Roh-Nya, dan melibatkan kita dalam misi-Nya. Jadi, ketika Ia berkata, “Aku butuh kamu mengurus sesuatu untuk-Ku,” kita melakukannya dengan sukacita karena Dialah yang meminta.
DOA:
Yesus yang terkasih, terima kasih karena Engkau begitu murah hati melibatkan kami dalam segala karya-Mu. Amin.
Pertanyaan Refleksi:
- Siapa seseorang yang menjadi teladan kepemimpinan yang baik bagi saudara? Bagaimana caranya?
- Apa yang membuat komunikasi langsung begitu berpengaruh?
- Bagaimana Yesus menggunakan orang-orang di sekitar saudara untuk membuatmu lebih terlibat dalam misi-Nya?
