
Mazmur 19:14
14 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.
Pemazmur berdoa agar kata-katanya dan renungan hatinya yang tersembunyi berkenan di hadapan Tuhan. Apakah kata-kata yang diucapkannya? Pada apa dia merenung? Dalam Mazmur 19, pemazmur memuliakan Allah untuk tiga karunia berharga: ciptaan, Hukum Allah, dan pengampunan-Nya. Dia menggambarkan karunia-karunia ini dalam renungan pujian, dan dia tidak sendirian dalam memuliakan Tuhan. Ciptaan itu sendiri turut serta dalam menyatakan keagungan Sang Pencipta: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:2). Tidak ada kata, tidak ada suara atau bahasa dalam pujian ciptaan itu, namun pesan tersebut menyatakan kemuliaan Allah, yang menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya. Firman Ilahi itu, hukum Tuhan, menjadi topik berikutnya dalam renungan pemazmur. Seolah-olah dia tidak dapat menemukan cukup kata untuk menggambarkan keindahan dan kebijaksanaan perintah Allah. Sifat-sifatnya terus dia sebutkan dalam pujiannya. Hukum Tuhan itu sempurna, teguh, benar, murni, bersih, tulus, adil, lebih diinginkan daripada emas, dan lebih manis daripada madu (lihat Mazmur 19:8-11).
Pemazmur mengomentari bahwa ada upah besar dalam menaati perintah Allah. Namun, pengamatan itu mengarah pada topik renungan lain yang menyentuh hati kita semua. Ya, ada upah besar dalam menaati perintah Allah, tetapi pemazmur tahu bahwa dia tidak menaati perintah itu sebagaimana seharusnya. Dengan kejujuran yang penuh pertobatan, kita harus mengakui bahwa kita juga tidak menaati perintah Tuhan. Hukum Tuhan itu sempurna, murni, dan benar, tetapi dengan cara yang kita sadari maupun tidak, kita melanggar hukum-Nya. Dalam pengakuan atas rasa bersalahnya, renungan pemazmur beralih pada pertobatan. Dia memohon pengampunan, bahkan untuk dosa-dosa yang tidak disadarinya: “Nyatakanlah aku tidak bersalah atas pelanggaran-pelanggaran yang tersembunyi” (Mazmur 19:13). Itu juga adalah doa kita. Pemazmur melanjutkan dengan meminta Tuhan agar menjauhkannya dari “dosa yang disengaja.” Permintaan itu mengingatkan kita pada kata-kata yang diajarkan Yesus, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat” (Matius 6:13).
Pemazmur mengarahkan pujiannya kepada “gunung batuku dan penebusku.” Penebus Daud, dan juga Penebus kita, adalah keturunannya, Yesus Kristus, yang disebut Anak Daud. Yesus adalah Firman melalui-Nya dan untuk-Nya segala sesuatu diciptakan. Dia adalah Firman yang menjadi manusia, yang lahir di antara kita untuk menanggung dosa kita dan membebaskan kita dari maut. Kepada-Nya, kita memanjatkan doa kata-kata mazmur ini, baik diucapkan atau dinyanyikan dengan suara keras maupun direnungkan secara diam-diam dalam hati kita. Kita berdoa agar pujian kita berkenan kepada Yesus, gunung batu dan Penebus kita.
KITA BERDOA: Tuhan Yesus, aku mempersembahkan kepada-Mu kata-kata pujianku dan renungan hatiku. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.
Pertanyaan Refleksi:
- Adakah orang dalam hidup saudara yang dengan sukacita sudara percayai untuk memberikan arahan? Mengapa saudara mempercayainya?
- Apa yang dimaksud pemazmur dengan kata-kata dan renungan yang berkenan kepada Allah?
- Bagaimana saudara merenungkan Firman Tuhan? Belajar secara pribadi? Dalam kelompok?
