
Yohanes 19:1
Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
Saya merasa sangat sulit membayangkan adegan ini. Itu penuh darah, kejam, dan bisa berakibat fatal; banyak orang mati di bawah hukuman ini. Ketika orang Romawi mencambuk seseorang, mereka menggunakan cambuk dengan banyak tali, dengan potongan tulang dan logam di ujungnya. Hukum Yahudi membatasi jumlah cambukan yang bisa diterima seseorang—tetapi tidak dengan hukum Romawi; satu-satunya pedoman mereka pada dasarnya adalah, “Jangan bunuh tahanan; pastikan dia tetap hidup untuk salib.”
Yesus menanggung ini untuk saya.
Dia juga menanggungnya untukmu—dan Dia menganggap itu sangat berharga. Sulit dipercaya, tetapi kita adalah sukacita-Nya. Kita adalah hadiah yang Dia anggap pantas untuk diperjuangkan—orang-orang yang sangat ingin Dia miliki bersama-Nya selamanya, seperti yang Dia katakan kepada Allah Bapa pada malam sebelum kematian-Nya (lihat Ibrani 12:2; Yohanes 17:24).
Yesus tidak menyesali harga yang telah Dia bayar untuk kita. Meskipun Dia masih membawa bekas luka dari pencambukan ini, luka-luka itu adalah kemuliaan-Nya—karena itu adalah bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita, sejauh mana Dia rela berkorban untuk mendapatkan kita—dan kita tahu, dengan pasti, bahwa Dia akan mendapatkan apa yang Dia inginkan pada akhirnya.
Dan kita akan bersukacita bersama-Nya selamanya.
KITA BERDOA:
Tuhan, aku mengasihi-Mu. Bawalah aku dengan selamat kembali kepada-Mu pada akhirnya. Amin.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah saudara merasa ngeri membayangkan penderitaan Yesus?
- Kapan saudara pernah menderita, meskipun sedikit, demi seseorang yang saudara cintai?
- Apakah itu sepadan? Mengapa?
Renungan Prapaskah ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
