PEMBERANI 160524

Yohanes 19:25-27 

25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”

27 Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Pada saat itu, hampir tidak ada lagi yang tersisa bagi Yesus. Reputasi-Nya, kebebasan-Nya, dan keamanan-Nya telah lenyap. Para murid-Nya telah tercerai-berai. Bahkan pakaian-Nya telah diambil dari-Nya.

Namun masih ada satu hal yang tersisa. Di kaki salib Yesus, berdiri ibu-Nya bersama murid yang dikasihi-Nya, Yohanes. Yesus tidak ingin salah satu dari mereka dibiarkan sendirian dalam kesedihan mereka. Maka, Dia memberikan penghiburan mereka satu sama lain.

Sungguh menghibur melihat kepedulian Yesus untuk memastikan bahwa keduanya memiliki sesama orang percaya yang bisa menemani mereka. Yesus bisa saja membiarkan Yohanes mencari jalannya sendiri—bisa saja meninggalkan Maria dalam pengasuhan saudara-saudara-Nya yang tidak percaya. Tetapi Dia tidak melakukan itu. Sebaliknya, Dia menciptakan keluarga baru yang penuh kasih dari mereka berdua.

Bukankah ini sangat mencerminkan sifat-Nya? Bagi-Nya, tidak cukup hanya memberi kita hidup, sukacita, keselamatan, pengampunan, dan damai melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Tidak, Dia ingin memberikan lebih dari itu—kasih dan dukungan dari sesama orang percaya dalam gereja, yang adalah tubuh-Nya. Dan Dia berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

KITA BERDOA: Terima kasih, Tuhan, karena Engkau memenuhi kebutuhan kami. Amin.

Pertanyaan Refleksi:

  • Kapan gereja pernah menjadi penghiburan bagimu?
  • Apa yang bisa kita lakukan ketika gereja gagal untuk menjadi tempat yang penuh kasih dan dukungan?
  • Mengapa tidak baik jika seseorang mencoba menjalani seluruh hidupnya sebagai orang Kristen yang terpisah dari gereja?

Renungan Prapaskah ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top