Jawablah Segera!

Mazmur 143:7-87 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur. 8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku. Ini adalah doa yang putus asa, doa “detik terakhir.” Apa pun situasinya, si pemazmur sangat butuh pertolongan—segera! Ia tidak punya tempat lain untuk bersandar. Tidak ada keluarga, tidak ada teman, bahkan pasukan tentara pun tidak bisa menolongnya. Dia sudah di luar batas pertolongan manusiawi—hanya Tuhan yang bisa menolongnya sekarang.Ini seperti doa Petrus saat ia berjalan di atas Danau Galilea dan mulai tenggelam karena melihat ombak yang menakutkan. Petrus berseru kepada satu-satunya sumber pertolongan: “Tuhan, tolonglah aku!” (Matius 14:30b).Kita tahu persis bagaimana rasanya doa seperti ini—karena kita juga sering berdoa seperti itu. Dalam berbagai keadaan: saat sakit, berduka, konflik keluarga, kehilangan finansial—kita merasa sendirian, lelah, dan tidak berdaya. Bersama Petrus kita berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Namun kadang kita bertanya-tanya, apakah Tuhan mendengar? Ini bukan waktu yang tepat bagi-Nya untuk diam atau bersembunyi. Ini bukan waktu untuk ujian iman.Namun, dalam setiap keadaan seperti itu, Tuhan hadir. Dia tidak berpaling. Si pemazmur tetap percaya bahwa doanya didengar. Ia menantikan kabar baik: “Perkenankanlah aku mendengar kasih setia-Mu di waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya.”Sebenarnya, kita tidak perlu menunggu kabar baik itu. Kita sudah melihat dan mendengarnya di kayu salib dan kubur kosong Yesus. Juruselamat kita berseru dari salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34b). Demi keselamatan kita, Allah berpaling dari Anak-Nya, membiarkan-Nya menderita dan mati. Karena Allah berpaling dari Anak-Nya, Ia tidak akan pernah berpaling dari kita.Di pagi Paskah pertama, kabar baik tentang kasih setia Allah diumumkan di kubur yang kosong: Yesus telah bangkit dari kematian!Kita percaya akan kabar baik itu. Maka dalam doa, kita datang dengan penuh keyakinan. Apa pun keadaan kita, betapa pun terdesaknya kita, wajah Allah penuh kasih dan berkat selalu menghadap kita. Ia mendengar doa kita dan akan menjawabnya menurut kehendak-Nya. Seperti yang Dia lakukan kepada murid-Nya, Petrus, Tuhan akan mengulurkan tangan dan mengangkat kita. Dia akan meredakan ketakutan kita dengan damai sejahtera-Nya, melindungi kita dengan kasih setia-Nya, dan menuntun kita dalam jalan yang harus kita tempuh.KITA BERDOA:Tuhan Yesus, hiburkanlah aku dengan kasih setia-Mu dan penuhilah aku dengan damai-Mu. Amin.Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.Pertanyaan Refleksi:
  1. Kapan saudara  paling sering berdoa—di masa baik atau masa sulit?
  2. Mengapa penting untuk berdoa di pagi hari sebelum memulai aktivitas harian?
  3. Perubahan hidup seperti apa yang bisa saudara lakukan untuk menyediakan waktu berdoa secara lebih konsisten?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top