Nama di Atas Segala Nama

Kejadian 11:1-3a, 4b-9a

1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 

2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: ………….

4 ………. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, 

6 dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. 

9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi ……………

Kisah ini banyak berbicara tentang kata-kata dan nama. Pada mulanya, semua orang di Babel berbicara dalam satu bahasa—mereka menyebut segala sesuatu dengan nama yang sama. Mereka menggunakan karunia kesatuan itu untuk melawan perintah Allah yang menyuruh mereka berpencar dan memenuhi bumi.

Tetapi mereka tidak mau. Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka sendiri dengan membangun menara yang tinggi menjulang ke langit. Dan dengan itu, mereka ingin tetap tinggal di tempat yang sama, hidup di bawah bayangan menara itu—dan menentang kehendak Allah.

Tentu saja mereka akhirnya dihakimi. Mereka ingin membuat nama bagi diri mereka sendiri? Baik. Allah mengambil semua nama lain yang mereka miliki bersama— kata-kata umum seperti: “batu bata,” “semen,” “menara,” “makanan.” Bahasa tunggal mereka dipecah menjadi banyak bahasa. Mereka tidak bisa lagi bekerja sama. Mereka kehilangan kata-kata yang membuat semuanya mungkin.

Itulah akhir dari menara mereka—dan akhir dari “nama besar” yang mereka coba buat untuk diri mereka sendiri. Karena itulah yang terjadi setiap kali manusia berusaha memuliakan dirinya sendiri—kehancuran pun datang. Hidup kita berantakan. Mencari nama besar untuk diri sendiri bukanlah ide yang baik—terutama jika itu berarti menempatkan rencana kita di atas kehendak Tuhan.

Tetapi kemudian Allah mengutus Firman-Nya ke dalam dunia, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan. Firman Allah turun dari surga dan lahir sebagai manusia—Yesus, Juruselamat kita. Ia menderita, mati, dan bangkit untuk membersihkan hati kita yang sombong dan berdosa. Sekarang Ia mengumpulkan kita kembali sebagai satu umat yang diselamatkan oleh-Nya—umat manusia yang telah ditebus.

Yesus tidak datang untuk mencari nama bagi diri-Nya sendiri. Ia datang untuk menyelamatkan kita dan memuliakan Bapa-Nya. Dan karena itulah, Allah menganugerahkan kepada-Nya Nama di atas segala nama, “supaya dalam Nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit dan yang di atas bumi dan di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:10a, 11).

KITA BERDOA:

Tuhan, izinkan aku membawa Nama-Mu, sebagai orang Kristen yang telah Engkau tebus. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Berikut adalah terjemahan dari pertanyaan refleksi:

  1. Apakah saudara tahu apa arti dari namamu?
  2. Apakah Yesus pernah khawatir tentang membuat nama bagi diri-Nya sendiri? Bagaimana saudara tahu?
  3. Apa arti dari nama Yesus sendiri? Apa artinya bagi saudara ?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top