Elementor #4526

Kisah Para Rasul 2:1-8, 11b, 14a, 16-17a, 21

1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

11 ……….. kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: …………

16 tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël:

17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; …………

21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

 

Sungguh menarik membandingkan peristiwa Babel dan Pentakosta. Di Babel, manusia berdosa, dan sebagai akibatnya Allah mengacaubalaukan bahasa mereka supaya mereka tidak lagi hidup dalam kesatuan. Hasilnya, mereka tersebar ke seluruh muka bumi.

Namun, pada hari Pentakosta, Allah melakukan mujizat supaya semua orang dapat memahami pesan Yesus dalam bahasa mereka masing-masing. Dan pesan itu menyatukan mereka kembali, sebagai satu umat yang percaya kepada Yesus. Meskipun mereka berasal dari berbagai bangsa, mereka kini menjadi satu dalam Yesus, Juruselamat yang menderita, mati, dan bangkit untuk membawa kita kembali kepada Allah.

Tetapi ini bukanlah pengembalian peristiwa Babel secara total, bukan? Karena Allah tidak menghapus perbedaan bahasa. Ia membiarkan bahasa-bahasa itu tetap ada—bersama dengan budaya, bangsa, dan kebiasaan yang telah tumbuh. Sebaliknya, Ia mengutus Roh Kudus supaya pesan tentang Yesus dapat disampaikan melewati semua perbedaan itu. Bahkan hingga kini, para misionaris belajar bahasa dan budaya baru agar mereka bisa memberitakan kisah Yesus sampai ke ujung bumi.

Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan apa pun, bahkan hal yang tadinya datang sebagai hasil hukuman. Keberagaman umat manusia justru akan menambah kemuliaan Yesus pada Hari Terakhir. Saat itu, kita semua yang menjadi milik Yesus akan menjadi seperti yang digambarkan oleh Yohanes dalam kitab Wahyu:

“Suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: ‘Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!’” (Wahyu 7:9b-10)

KITA BERDOA:

Tuhan, biarlah kisah keselamatan-Mu diberitakan kepada setiap bahasa dan kelompok bangsa di dunia ini. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apakah saudara menyukai perbedaan ? Mengapa iya atau mengapa tidak?
  2. Mengapa menurutmu Tuhan tidak memberi kita satu bahasa tunggal lagi?
  3. Hal-hal apa yang dimiliki semua orang Kristen secara bersama, terlepas dari bahasa, negara, atau latar belakang?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top