
Mazmur 8:3-6
3 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
4 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
5 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
6 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
Seberapa pentingkah seorang manusia bagi Allah, sehingga Dia peduli bahkan memikirkan satu saja dari mereka yang diciptakan-Nya? Itu yang ingin diketahui pemazmur. Dibandingkan dengan lautan yang luas atau jajaran pegunungan yang besar, satu manusia tampak sangat kecil dan nyaris tak terlihat. Dari sudut pandang kita sendiri, tentu saja, kita merasa sangat penting. Dengan kesombongan berdosa, kita suka membayangkan bahwa segala sesuatu berpusat pada diri kita. Namun saat kita menatap langit malam yang dipenuhi bintang atau mengingat dosa-dosa yang telah kita lakukan, tiba-tiba kita merasa sangat kecil. Itulah yang dialami pemazmur saat ia memandang langit malam yang terbentang di atasnya dan bertanya kepada Allah, “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?”
Allah sungguh memperhatikan manusia ciptaan-Nya. Ia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, menurut gambar-Nya sendiri. Ia memberi mereka kuasa atas “segala makhluk hidup yang bergerak di bumi” (Kejadian 1:28b). Manusia adalah mahkota dan kemuliaan dari ciptaan-Nya, dijadikan hanya sedikit lebih rendah dari malaikat. Namun, kemuliaan dan kuasa itu belum cukup bagi manusia. Mereka menginginkan lebih dan memilih untuk tidak menaati Sang Pencipta. Sebagai manusia, kita pun sering mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kita menyalahgunakan kuasa atas ciptaan dan mencari kemuliaan duniawi bagi diri sendiri, bukan memuliakan Allah. Kita adalah manusia yang jatuh dalam dosa, namun kita tetap sangat berharga di mata Allah, sehingga Ia mengutus Anak-Nya untuk menjadi Juruselamat kita.
Penulis surat Ibrani menggunakan kata-kata dari mazmur ini untuk menggambarkan pelayanan Yesus di bumi dan karya penyelamatan-Nya. Yesus merendahkan diri-Nya untuk lahir sebagai manusia dan, untuk sementara, lebih rendah dari malaikat. Ia menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa dunia. Ia bangkit dari kematian dan ditinggikan untuk memerintah di sebelah kanan Bapa, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dengan segala sesuatu ditaklukkan di bawah kaki-Nya (lihat Ibrani 2:6-8).
Seperti pemazmur, kita melihat kemuliaan Allah dalam keindahan ciptaan-Nya. Kita berusaha membagikan kasih Allah kepada orang lain dan menjadi penjaga yang baik atas dunia yang Ia ciptakan. Namun kita tidak perlu bertanya apakah Allah mengingat kita atau peduli pada kita. Kita dapat melihat bintang-bintang di langit malam dan mengingat satu bintang istimewa yang dahulu mengumumkan kelahiran Yesus. Bagaimana kita tahu bahwa Allah peduli pada kita? Ia mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat kita!
KITA BERDOA:
Tuhan Allah, aku tahu bahwa Engkau peduli kepadaku karena Engkau mengutus Anak-Mu menjadi Juruselamatku. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah saudara memiliki tempat alam favorit yang ingin Anda jaga atau lestarikan—seperti hutan, danau, gurun, dll.?
- Dalam hal apa saja Allah telah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan kehormatan?
- Bagaimana manusia telah menjadi pengelola yang baik atas alam, dan bagaimana juga mereka telah lalai mengelola alam?
