
“Semoga kami dapat laksanakan perintah-Mu, ya Tuhan,
Dan melakukan kehendak Bapa di bumi ini,
Seperti para malaikat di surga;
Terus berjalan dalam Kristus, jalan yang hidup,
Bersama semua anak-Mu dan menaati
Hukum kasih Kristen.
Roh kehidupan, kasih dan damai,
Satukanlah hati kami, tambahkanlah sukacita kami,
Berikanlah pertolongan-Mu yang murah hati.
Kepada kami masing-masing berikanlah berkat
Untuk hidup dalam persekutuan Kristen,
Dan mati dalam pengharapan yang penuh sukacita.”
Hymne ini berbicara tentang “hukum kasih Kristen.” Di dunia sekarang, kasih dan hukum sering kali dianggap sebagai dua hal yang bertolak belakang. Kasih sering dipahami sebagai “izin” untuk bertindak sesuai dengan keinginan pribadi—meskipun keinginan itu melanggar hukum Allah. Tapi, sebagai orang Kristen, pengharapan dan kerinduan kita adalah melakukan kehendak Bapa di surga. Kita mengasihi Dia, dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita ingin menaati perintah-perintah-Nya.
Dalam Alkitab, perintah-perintah Allah diringkas dalam satu kata: kasih. Yesus sendiri berkata bahwa perintah yang terbesar adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Dan perintah yang kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (lihat Matius 22:37-40).
Rasul Paulus menyimpulkannya dengan sangat sederhana:
“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).
Pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus membasuh kaki para murid-Nya sebagai wujud kasih dan pelayanan. Lalu Yesus memberikan perintah yang baru: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34). Inilah hukum kasih Kristen—hukum kasih yang tidak egois, tetapi rela berkorban dan memberi diri untuk melayani orang lain.
Ketika kita hidup menurut hukum ini, kita melayani sesama, dan dengan melakukannya, kita menjalankan kehendak Bapa, seperti yang dilakukan para malaikat di surga.
Kasih ini juga nyata dalam persekutuan kita dengan saudara-saudari seiman.
Kasih yang kita tunjukkan adalah refleksi dari kasih dan anugerah Bapa Surgawi kita, yang mengasihi dunia dan mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat. Yesus menunjukkan kasih ini dengan sempurna, dengan berjalan di jalan kasih—menjalani ketaatan kepada kehendak Bapa, dan mengorbankan hidup-Nya untuk menyelamatkan kita.
Roh Kudus menyatukan hati kita dalam Kristus dan menuntun kita untuk hidup dalam persekutuan kasih.
Roh itu juga memberikan kita keberanian untuk percaya pada kasih Allah,
hidup menurut hukum kasih-Nya,
dan akhirnya meninggal dalam pengharapan penuh sukacita akan kehidupan kekal bersama Dia.
KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk hidup menurut hukum kasih-Mu. Amin.
Renungan ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler dan berdasarkan lagu pujian “May We Thy Precepts, Lord, Fulfill,” nomor 698 dalam Lutheran Service Book.
Pertanyaan Refleksi:
1. Siapa dalam hidupmu yang menjadi teladan besar dalam mengasihi sesama?
2. Bagaimana perintah Yesus untuk saling mengasihi merupakan “perintah yang baru”?
3. Ketika mengasihi orang lain terasa sulit, bagaimana teladan Yesus memotivasi saudara untuk tetap mengasihi?
