KITA MILIK-NYA

Mazmur 100:3-5

3 Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Allah yang menciptakan kita. Kita adalah milik-Nya. Itu bukan gagasan yang populer di budaya kita saat ini. Tak seorang pun ingin berada di bawah kendali orang lain atau dimintai pertanggungjawaban oleh siapa pun. Orang lebih suka dianggap sebagai individu yang mandiri dan membangun segalanya sendiri.

Banyak yang membayangkan bahwa dunia ini hanya berevolusi dengan sendirinya, dan bahwa manusia ikut berevolusi bersama bumi yang mereka tempati. Mereka menolak gagasan bahwa ada Sang Pencipta, dan malah menyembah allah yang bernama “diri sendiri.” Pemikiran seperti ini menggambarkan apa yang dikatakan rasul Paulus tentang manusia yang telah jatuh dalam dosa: “Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk ciptaan sebagai ganti Sang Pencipta, yang adalah terpuji untuk selama-lamanya. Amin!” (Roma 1:25)

Kita yang percaya kepada Kristus Yesus dengan rela mengakui bahwa Allah yang menciptakan kita. Kita adalah milik-Nya dan kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Kita bukan hanya umat milik-Nya, kita adalah domba-domba-Nya. Itu juga bukan ide yang populer. Domba bukanlah hewan yang dianggap mulia atau mandiri. Domba biasanya dikenal sebagai makhluk yang penurut, mudah diarahkan, dan mudah tersesat. Namun, kita dengan sukacita mengakui bahwa kita adalah domba, dan lebih dari itu, kita mengasihi Gembala kita—Yesus.

Dialah Gembala yang baik, yang memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita. Kita sepenuhnya bergantung pada-Nya untuk hidup, pengampunan, damai, dan keselamatan. Saat kita tergoda oleh pemikiran dunia dan menyimpang dari jalan kebenaran Gembala kita, Ia memanggil kita untuk bertobat dan mengampuni dosa kita.


Kita bersukacita menjadi domba, walaupun itu tidak populer di mata dunia. Dan kita bahkan lebih bersukacita karena bisa berada dalam hadirat Gembala kita. Memang, Dia selalu hadir bersama kita setiap saat, tetapi kita berkumpul bersama domba-domba lain pada hari pertama setiap minggu untuk menyembah Tuhan kita. Itulah hari ketika Gembala kita Yesus bangkit dari kematian. Maka setiap hari Minggu kita “masuk ke pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur dan ke pelataran-Nya dengan puji-pujian.”

Di sana, saat mendengarkan Firman Allah, kita mendengar suara Gembala kita—suara yang kita kenali dan kasihi. Kita belajar bahwa Gembala kita itu juga adalah Anak Domba Allah yang dikorbankan untuk menebus dosa dunia. Kita bersukacita mendengar kabar baik tentang kebangkitan-Nya. Gembala yang baik memberi kita makan melalui tubuh dan darah-Nya sendiri dalam Perjamuan Kudus-Nya, untuk memperkuat iman kita dan mengampuni dosa kita. Yesus telah membeli kita dengan darah-Nya yang mahal dan tak bernoda. Dia mengklaim kita sebagai milik-Nya, dan kita bersukacita menjadi milik-Nya.

KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, Gembalaku, aku bersukacita menjadi salah satu domba-Mu yang berharga. Jagalah aku tetap aman dalam pemeliharaan-Mu. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.

Pertanyaan Refleksi:

1. Menurut saudara apakah masih ada orang yang merasa sulit menerima bahwa mereka diciptakan oleh Sang Pencipta?

2. Apakah percaya kepada Sang Pencipta mempengaruhi cara pandangmu terhadap dunia dan orang-orang di dalamnya? Bagaimana caranya?

3. Sebutkan beberapa cara bagaimana Gembala yang Baik menuntun kita dan menjaga kita agar tidak tersesat?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top