MEWARISKAN IMAN

Amsal 3:1-8 

1 Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 

2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. 

3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 

4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. 

5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 

6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 

7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 

8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

 

Semakin saya bertambah usia, salah satu hal yang paling saya sesali adalah keterbatasan saya dalam mewariskan pengalaman hidup dan iman saya kepada anak laki-laki saya. Saya sudah percaya kepada Yesus selama 50 tahun; dan kalau bisa, saya ingin “mengunduh” semua yang sudah saya pelajari—semua berkat yang Dia berikan, semua yang saya pahami dari Alkitab, dan semua pelajaran dari mengikuti Dia dalam kehidupan sehari-hari—lalu memberikannya langsung kepada anak saya. Mungkin itu bisa membuat dia tidak perlu belajar dengan cara yang sulit.

Tapi saya tidak bisa melakukan itu. Masalahnya, tidak ada orang yang bisa percaya kepada Tuhan untuk orang lain. Iman anak saya adalah imannya sendiri; cara dia berhubungan dengan Tuhan itu unik. Walaupun saya ingin melindunginya dari segala bahaya dan rasa sakit, saya tidak bisa.

Hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah seperti yang dilakukan Salomo di sini—menyampaikan lewat kata-kata: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Namun mungkin itu bukan satu-satunya yang bisa saya lakukan. Sebab saya dan anak saya punya sesuatu yang Salomo tidak punya. Kami hidup di zaman setelah Allah datang ke dunia ini sebagai manusia—Yesus Kristus. Kami bisa membaca dan mendengar kisah tentang apa yang Dia lakukan bagi kita—bagaimana Dia lahir di tengah keluarga yang sederhana, bagaimana Dia tumbuh untuk mengajar, menyembuhkan, dan melayani banyak orang, dan bagaimana, ketika waktunya tiba, Dia rela dikhianati, ditangkap, disiksa, dan mati dengan kematian yang memalukan. Dan kami juga tahu bahwa pada hari ketiga Dia bangkit dari kematian—mengalahkan kuasa maut atas semua orang yang percaya kepada-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membebaskan kita dari kuasa dosa dan kejahatan, serta menjadikan kita anak-anak Allah, dipenuhi Roh Kudus, dan hidup dalam kasih-Nya di dunia ini. Dan kita menantikan hari ketika Dia akan datang kembali seperti yang telah Dia janjikan.

Inilah yang bisa saya berikan kepada anak saya—dan kepada semua orang yang saya kasihi. Dan sekalipun benih Injil itu mungkin tetap diam dan tersembunyi di hati mereka selama bertahun-tahun, saya punya harapan bahwa Allah akan menumbuhkannya menjadi hidup yang kekal pada waktu-Nya sendiri.

DOA: Allah Roh Kudus, pakailah aku untuk mewariskan Injil kepada orang-orang di sekitarku, terutama keluargaku sendiri. Amin.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Bagaimana saudara pertama kali mengenal Yesus? Siapa yang menceritakan tentang Dia kepadamu?
  2. Bagaimana saudara berusaha membagikan imanmu kepada orang-orang yang saudarakasihi?
  3. Harapan apa yang saudara miliki ketika orang yang saudara kasihi sepertinya tidak mau mendengarkan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top