Lewat Kematian Kita Hidup

Bilangan 14:19-23a, 29a 

19 Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari.”

20 Berfirmanlah TUHAN: “Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu. 

21 Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi:  

22 Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku,

23 pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka!……………. 

29 Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, …..

Di generasi sebelumnya di Amerika, ada istilah yang sering dipakai: seseorang disebut “orang Kristen yang lahir baru” (born again Christian). Itu sempat menjadi tren dalam cara berbicara waktu itu, meskipun sekarang sudah jarang dipakai. “Lahir baru” memang istilah Alkitab (1 Petrus 1:3; juga Yohanes 3:3), tetapi sebenarnya ada hal lebih besar yang perlu dijelaskan: kelahiran baru dalam Kristus selalu didahului oleh sebuah kematian—kematian terhadap manusia lama. Seperti yang dikatakan rasul Paulus: “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya … supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:3-4). Jadi “lahir baru” hanyalah setengahnya. Pola besarnya adalah: mati untuk bangkit kembali.

Pola ini muncul di seluruh Alkitab. Ketika Abraham dan Sara sudah tua dan mandul, Allah berjanji akan memberi kehidupan dari tubuh mereka yang “seperti sudah mati” (Roma 4:19). Bertahun-tahun kemudian, ketika keturunan mereka menjadi budak di Mesir dan kenangan tentang tanah perjanjian sudah seperti mati, dari “kematian hidup” itu Allah membangkitkan umat-Nya. Lalu, ketika mereka memberontak dan hampir menghancurkan segalanya, lalu dijatuhi hukuman untuk mati di padang gurun, Allah tetadarap setia kepada mereka dan kepada anak cucu mereka—supaya mereka percaya, supaya kita juga percaya, bahwa Ia adalah Allah “yang menghidupkan orang mati” (Roma 4:17).

Lewat Kematian, kita hidup. Itulah pola yang terus berulang sampai akhirnya digenapi dalam diri Yesus. Yesus masuk ke dalam pola itu bagi kita. Ia disalibkan untuk melenyapkan pemberontakan kita. Ia bangkit dari kematian supaya hidup baru menjadi mungkin bagi kita. Ia berjanji akan datang kembali, membangkitkan orang mati, dan membawa kita bersama semua umat-Nya masuk ke tanah perjanjian ciptaan baru Allah.

Kita ini mirip dengan generasi pertama umat Allah setelah keluar dari Mesir. Bedanya, kita sudah tahu polanya. “Di padang gurun” adalah tempat di mana diri kita yang egois akhirnya mati. “Di padang gurun” adalah tempat di mana hidup dalam Kristus lahir kembali dan dimurnikan. “Di padang gurun” adalah tempat Allah memberi kita pengharapan.

“Di Padang Gurun” (Bamidbar) sebenarnya juga adalah nama asli dari kitab keempat dalam Alkitab berbahasa Ibrani. Mungkin kita lebih mengenalnya dengan nama Latinnya, yaitu “Bilangan.” Dalam beberapa minggu ke depan, saya akan mengajak saudara masuk ke dalam kisah padang gurun ini. Saya akan tetap menyebutnya “Bilangan,” tetapi semoga kita bisa mulai melihatnya lebih dari sekadar kumpulan angka. Karena di balik angka-angka itu ada orang-orang nyata—seperti kita—Yesus telah mati dan bangkit untuk mereka, supaya kita juga dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah.

DOA: Yesus yang terkasih, ajarlah aku untuk mati bersama-Mu, supaya aku bangkit mulia pada hari yang agung itu. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Pdt. Dr. Michael Zeigler, pengkhotbah The Lutheran Hour.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Bagaimana musim-musim dalam Tahun Gereja, seperti Prapaskah, Paskah, dan Pentakosta, menerapkan pola Alkitabiah tentang mati dan bangkit bersama Kristus?
  2. Bacalah doa pagi dan malam Luther (tautan: https://catechism.cph.org/en/daily-prayers.html). Bagaimana doa-doa ini membantu kita menata setiap hari sebagai “mati dan bangkit kembali”?
  3. Di mana lagi saudara melihat pola “mati untuk bangkit” ini dalam liturgi dan nyanyian gereja? Bagaimana dengan dalam ciptaan secara umum?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top