
Lukas 14:25-28, 31-35
25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
26 “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
34 Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
35 Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Inilah salah satu bagian Alkitab yang membuat kita gelisah. Benarkah, Tuhan? Kami harus membenci keluarga kami sendiri? Kami harus melepaskan segala yang kami miliki?
Saya percaya Yesus memang bermaksud membuat kita bergelisah. Kalau kita tidak merasa tertantang, mungkin kita belum cukup serius mendengarkan perkataan-Nya.
Karena Yesus benar ketika Ia berkata bahwa mengikut Dia bisa berarti kehilangan keluarga, harta benda, bahkan nyawa. Sudah banyak orang Kristen yang benar-benar kehilangan segalanya demi Kristus. Mungkin kita sekarang hidup lebih nyaman, tetapi tidak ada jaminan untuk masa depan. Saya punya seorang teman yang sedang ditolak keluarganya sendiri karena ia percaya kepada Yesus!
Apakah ini berarti kita harus segera membuang semua yang kita punya demi Yesus? Tidak. Tapi kita harus siap menghadapinya. Beberapa murid Yesus di zaman awal masih memiliki rumah, keluarga, atau usaha mereka. Maria, Marta, dan Lazarus tetap tinggal di rumahnya, tetapi rumah itu terbuka untuk Yesus. Matius mengundang Yesus makan di rumahnya. Ada murid yang masih punya perahu, yang dipakai untuk membawa Yesus menyeberang danau. Artinya: apa pun yang mereka miliki, mereka gunakan pertama-tama untuk melayani Tuhan. Dan kalau suatu saat harus memilih, mereka tahu siapa yang harus didahulukan.
Semua ini memang berat—tetapi menjadi mungkin ketika kita melihat bagaimana Yesus lebih dulu mengasihi kita. Dia tidak menunggu atau menimbang apakah akan kehilangan segalanya demi kita. Dia langsung menyerahkan semuanya. Dialah yang meninggalkan surga demi menjadi Juruselamat kita—menukar takhta-Nya yang mulia dengan sebuah palungan sederhana. Dialah yang meninggalkan keluarga dan rumah demi berjalan dari kota ke kota, mengajar, menyembuhkan, dan melayani dari pagi hingga malam. Dialah yang menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib—telanjang, dihina, dan ditinggalkan—semua karena kasih-Nya, supaya kita dibebaskan dari dosa, maut, dan kuasa iblis.
Dan sekarang, setelah Yesus bangkit dari kematian, Ia memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan. Hidup? Ya, hidup yang kekal. Keluarga? Ya, jemaat-Nya yang menjadi saudara-saudari kita, dan Allah sendiri sebagai Bapa kita. Bahkan jika kita kehilangan segalanya, kita tetap memiliki Yesus—Dia yang mengasihi kita lebih daripada siapa pun, dan kita akan bersama Dia untuk selamanya.
DOA:
Yesus yang terkasih, arahkan selalu mata dan hatiku hanya kepada-Mu. Amin.
Ditulis oleh: Dr. Kari Vo
Pertanyaan Refleksi:
- Tiga hal apa yang paling penting dalam hidupmu?
- Kapan terakhir kali saudara kehilangan sesuatu—sekecil apa pun—demi Yesus?
- Kebaikan khusus apa saja yang sudah Yesus berikan kepadamu?
