LANGKAH YANG TEGUH

Mazmur 40:1-3

1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (40-2) Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. 

2 (40-3) Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, 

3 (40-4) Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.

Mazmur ucapan syukur dan pujian ini bermula dari keadaan terpuruk, seperti berada di dalam lubang kehancuran dan lumpur rawa. Apa pun masalah pastinya, si pemazmur merasa terjebak—seperti terperosok ke dalam jurang atau tenggelam dalam lumpur. Namun, ia menanti dengan sabar sambil berdoa memohon pertolongan. Lalu TUHAN mengangkatnya keluar dan menempatkannya di atas batu yang kokoh. Sebagai balasan atas penyelamatan itu, si pemazmur menaikkan nyanyian baru, yaitu pujian kepada Allah. Saat orang lain mendengar lagu itu dan menyaksikan kuasa Allah yang menyelamatkan, mereka pun belajar untuk percaya kepada TUHAN. Ayat-ayat ini dimulai dengan keputusasaan, tetapi berakhir dengan penyelamatan, pujian, dan kesaksian.

Ayat-ayat Mazmur ini juga memberi kita gambaran awal tentang karya penyelamatan Tuhan kita. TUHAN yang menolong dan menyelamatkan, rela membiarkan diri-Nya sendiri masuk ke dalam “lubang kehancuran.” Ia dituduh oleh musuh-musuh-Nya melakukan kejahatan yang tidak pernah Ia lakukan, dan Ia terjebak dalam kubangan kebencian. Demi kita, Yesus turun ke dalam lubang maut. Dengan kasih yang sabar dan rela, Ia memikul salib, sadar bahwa tidak akan ada jalan pintas untuk diselamatkan dari kematian. Ia mati dan dikuburkan, tetapi pada hari ketiga setelah kematian-Nya, pertolongan itu datang. Yesus bangkit dari kubur kehancuran. Dengan tubuh yang hidup selamanya, kaki-Nya yang masih berlubang bekas paku berdiri kembali di bumi yang kokoh, menandai kemenangan atas dosa, maut, dan Iblis. Kemenangan itu—yang diraih-Nya untuk kita—menaruh nyanyian baru di dalam mulut kita, sebuah sorak pujian bagi Tuhan yang tersalib namun kini hidup: “Kristus telah bangkit! Ia sungguh telah bangkit! Alleluia!”

Kita pun pernah merasakan pengalaman si pemazmur. Kita tahu bagaimana rasanya terjebak dalam lubang kehancuran dan keputusasaan, seperti terperangkap dalam pasir hisap dan semakin tenggelam. Segala usaha kita sendiri hanya membuat kita semakin terbenam. Maka kita berseru dalam doa, memohon agar diselamatkan dari keputusasaan, pertengkaran, kekhawatiran, dan segala masalah yang menekan kita. Tuhan Yesus—yang memikul salib demi kita dan menolong kita memikul salib kita sendiri—akan kembali mengangkat kita. Hidup kita kini berdiri teguh di atas Yesus, Batu Penjuru dan Dasar iman kita. Kita berjalan mengikuti Dia, dengan langkah yang pasti dan terjamin. Dan sepanjang perjalanan itu, kita membawa nyanyian baru di hati kita: nyanyian pujian kepada Tuhan yang menolong dan menyelamatkan. Nyanyian itu juga menjadi kesaksian kita di tengah dunia, dan kita berdoa supaya semua yang mendengarnya akan “melihat, menjadi takut, dan percaya kepada TUHAN!”

DOA: Tuhan Yesus, biarlah pujianku menjadi kesaksian tentang kasih-Mu. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Menanti dengan sabar kepada Allah seringkali tidak mudah. Namun kita tahu Dia mendengar doa kita. Apa berkat yang diterima pemazmur karena kesabarannya?
  2. Dengan cara apa Allah memberkati orang lain karena kesabaran si pemazmur?
  3. Bagaimana Yesus memberi teladan tentang kesabaran dalam karya-Nya yang berat dan berbahaya untuk menyelamatkan kita?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top