
Berikut terjemahan lirik dari lagu “Take My Life and Let It Be,” yang ada di buku Lutheran Service Book nomor 783.
“Ambil perak dan emas milikku, Tak sebutir pun akan kutahan; Ambil akal budiku dan pakailah, Setiap kuasa menurut pilihan-Mu.
“Ambil kehendakku dan jadikan kehendak-Mu, Tidak lagi menjadi milikku; Ambil hatiku, itu milik-Mu, Jadikanlah takhta kerajaan-Mu.”
Allah memberikan kepada Israel kata-kata yang menjadi pengakuan iman mereka kepada Allah yang menyelamatkan mereka: “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4). Tidak seperti bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain di sekitarnya yang menyembah banyak allah, Israel percaya kepada satu-satunya Allah yang benar. Mereka diperintahkan untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan mereka, melayani Dia dengan segala yang mereka miliki dan segala yang mereka ada. Namun sering kali mereka gagal untuk hidup dalam penyerahan penuh kepada Tuhan.
Ketika Anak Allah, Yesus Tuhan kita, ditanya tentang hukum yang paling utama, Ia merangkum pengakuan iman Israel yang kuno itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37b). Nyanyian rohani kita pun menggemakan pengakuan itu: “Ambil akal budiku dan pakailah setiap kuasa menurut pilihan-Mu … Ambil kehendakku dan jadikan kehendak-Mu … Ambil hatiku, itu milik-Mu.” Tidak ada jalan setengah-setengah dalam iman kepada Kristus Yesus. “Ambil akal budiku … kehendakku … hatiku.” Tema ini terus bergema sepanjang nyanyian itu: “Ambil hidupku, waktuku, hari-hariku, tanganku, kakiku, suaraku, perak dan emasku, juga kasihku.”
Iman kepada Yesus bukan hanya untuk hari Minggu. Percaya kepada Juruselamat berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Namun kita sering kali tidak cukup rela memberikan seluruh diri kita kepada Tuhan. Bangsa Israel sering gagal mempercayai Tuhan dan berpaling kepada penyembahan allah bangsa-bangsa lain. Kita pun gagal, menahan sebagian dari apa yang sebenarnya milik Tuhan. Akal budi kita sering condong mengikuti godaan dunia. Kita lebih suka hidup menurut kehendak kita sendiri daripada kehendak Allah. Hati kita pun sering tidak setia.
Tetapi meskipun kita sering tidak setia, Tuhan kita tetap setia. Yesus hidup dalam kesatuan dengan Bapa-Nya di surga, taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa dengan hati, jiwa, dan pikiran-Nya. Yesus menyerahkan diri-Nya sepenuhnya sebagai korban untuk dosa-dosa kita. Tangan dan kaki-Nya dipaku di kayu salib. Suara-Nya berseru bahwa penebusan kita telah selesai. Ia memberikan seluruh waktu dan hidup-Nya, hingga menyerahkan roh-Nya, untuk menyelesaikan keselamatan kita.
Dengan penuh kekaguman dan rasa syukur, kita memandang kepada salib dan berdoa: “Ambillah hidupku dan jadikan milik-Mu, Tuhan. Ambillah akal budiku, kehendakku, hatiku, tanganku, kakiku, kasihku—seluruh diriku. Aku milik-Mu!”
DOA KITA: Tuhan, bentuklah akal budi, kehendak, dan hatiku agar dapat dipakai melayani-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler. Didasarkan pada nyanyian rohani “Take My Life and Let It Be,” yang ada di buku Lutheran Service Book nomor 783.
Pertanyaan Refleksi:
- Karunia atau kemampuan khusus apa yang telah Allah berikan kepadamu untuk melayani Dia dan sesama?
- Seberapa setia bangsa Israel dahulu kepada satu-satunya Allah yang benar? Dapatkah kamu memberi contoh saat mereka setia? Saat mereka menyimpang?
- Bagaimana Roh Kudus memperlengkapi dan memperkaya hidup kita untuk melayani Allah dengan setia? (Lihat Yohanes 16:13, Roma 8:26-27, dan Galatia 5:16-25).
