
Rut 1:1, 2b-5, 7-8a, 14b, 16-17, 19a
1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
2 ……….dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.
3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.
4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.
5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.
7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,
8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; …….
14 …… lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.
16 Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
17 di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”
19 Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. …..
Awal kitab Rut selalu menyentuh hati saya karena penuh dengan kesedihan. Sebuah keluarga berempat meninggalkan tanah airnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negeri lain; namun tiga di antara mereka meninggal di sana, menyisakan seorang perempuan tua, Naomi, bersama dua menantunya yang tidak mempunyai anak. Naomi kehilangan segalanya di negeri itu, sehingga ia memutuskan untuk pulang, meskipun di tanah kelahirannya pun ia tidak banyak memiliki harapan. Namun, yang mengejutkan, salah satu menantunya memutuskan untuk tetap ikut dengannya.
Tidak ada alasan logis bagi Rut untuk ikut dengan Naomi. Di Israel, justru dialah yang akan menjadi orang asing, bukan Naomi; dan Naomi sendiri tidak memiliki rumah atau warisan yang jelas, hanya sedikit harapan mendapat pertolongan dari sanak saudara. Rut harus bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua; dan peluangnya untuk menikah kembali serta memiliki anak pun sangat kecil. Namun Rut menerima semua penderitaan itu karena ia mengasihi Naomi—dan dari apa yang ia katakan, jelas bahwa ia juga mengasihi Tuhan.
“Allahmu adalah Allahku,” kata Rut. Bahkan ia bersumpah atas nama-Nya. Pasti keluarga Naomi sebelumnya sudah menanamkan iman kepada Tuhan dalam hati Rut, dan sekarang Rut sama sekali tidak mau kehilangan Allah ini maupun perempuan yang telah memperkenalkannya kepada Allah. Kasih Rut mencerminkan kasih Allah sendiri melalui pengorbanannya untuk Naomi. Tidak heran kalau Tuhan memilihnya untuk menjadi salah satu nenek moyang Yesus.
Kasih Rut adalah bayangan kasih Kristus; sebab Yesus pun melihat kita dalam kesulitan kita, dan Dia juga sama sekali tidak rela meninggalkan kita atau kehilangan kita. Ia datang ke dunia yang rusak ini dan tinggal di tengah-tengah kita, peduli pada kita. Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita melalui penderitaan dan kematian-Nya; dan melalui kebangkitan-Nya, Ia memberikan kita hidup yang baru—hidup yang kekal bersama Dia selamanya. Adakah yang lebih indah dari itu?
DOA KITA: Tuhan Yesus yang terkasih, terima kasih karena Engkau mengasihi kami dan tetap bersama kami selamanya. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Renungan:
- Apakah manusia diciptakan untuk hidup sendiri? Mengapa atau mengapa tidak?
- Kepada siapa Anda biasanya bergantung untuk menemani dan menolong Anda?
- Mengapa Yesus berjanji untuk selalu menyertai kita selamanya? (Lihat Matius 28:20.)
