
Lukas 17:17–19
17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Pernah seseorang berkata kepada saya, “Saya tahu seharusnya saya hidup dengan rasa syukur, bukan dengan ketidakpuasan, tapi bagaimana sebenarnya bertindak menjadi orang Kristen? Apa bedanya hidup sebagai orang Kristen dengan orang lain yang juga berusaha hidup sebaik mungkin?”
Itu pertanyaan yang sulit. Bagaimana saudara akan menjawabnya?
Saya katakan padanya bahwa yang membuat hidup orang Kristen berbeda dari sekadar “berusaha hidup baik” adalah bahwa kita tahu kepada siapa kita harus bersyukur. Kunci hidup dengan rasa syukur bukanlah seberapa keras kita berusaha untuk bersyukur, tetapi siapa sumber rasa syukur itu sendiri—yakni Allah yang penuh kasih melalui pribadi dan karya Yesus bagi kita.
Rasa syukur seorang Kristen lahir dari kenyataan tentang apa yang telah dan akan Allah lakukan bagi kita melalui kasih karunia-Nya. Jadi, apa yang membuat hidup orang Kristen penuh rasa syukur berbeda dari yang lain?
Kita tahu siapa yang layak menerima syukur kita—dan kita mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk selamanya. Ketika kita hidup dalam kesadaran itu, tak ada yang bisa menandinginya di dunia ini!
Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta yang hidup terasing dan dijauhi oleh masyarakat. Hidup mereka penuh penderitaan dan rasa malu. Namun setelah mereka semua disembuhkan, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus. Dialah satu-satunya yang melihat gambaran besar dari apa yang terjadi. Ia menyadari bahwa Yesus bukan sekadar guru atau orang saleh—Dia adalah Allah yang datang dalam rupa manusia, yang memberikan kehidupan bukan hanya untuk saat itu, tetapi kehidupan yang kekal.
Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Itu bukan berarti imannya “menghasilkan” kesembuhan—karena semua sepuluh orang itu juga sembuh. Namun, orang ini melihat kesembuhannya sebagai bagian dari karya Allah yang lebih besar. Ia kembali untuk bersyukur kepada Allah yang menciptakannya, mengasihinya, dan menebusnya. Ia sadar bahwa hidupnya ada di tangan Allah melalui Kristus, dan itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi.
Melalui kisah ini, kita melihat bahwa Yesus merasakan penderitaan kita. Ia mencari mereka yang tersingkir—yang dianggap tidak berharga oleh dunia. Ia datang untuk mencari setiap orang yang tahu bahwa tanpa Dia, mereka tersesat.
Marilah kita mengingat Siapa sumber dari segala berkat dan rasa syukur kita—bukan hanya untuk hidup sementara ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal yang kita miliki sekarang oleh iman.
Nama-Nya adalah Yesus. Ia adalah Kristus, dan di dalam tangan-Nya yang penuh kasih ada kesembuhan, kehidupan, dan keselamatan.
Renungkanlah hal ini hari ini—dan nyatakanlah rasa syukurmu melalui cara saudara hidup.
DOA:
Bapa di surga, terima kasih untuk anugerah terbesar dari semua anugerah: Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin.
Pertanyaan Refleksi:
- Dapatkah kita benar-benar bersyukur kepada Allah dalam segala keadaan? Jika ya, apa dasar dari rasa syukur itu?
- Mengapa kadang kita lupa bersyukur kepada Allah atas hal-hal yang sudah lama kita doakan?
- Hal apa yang baru-baru ini terjadi dalam hidupmu yang membuatmu sangat bersyukur?
