
2 Tesalonika 3:6–13
6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.
7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,
8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.
9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.
10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.
13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.
Pernahkah saudara mendengar seseorang berkata, “Saya tidak mau menjadi beban bagi siapa pun”?
Kebanyakan dari kita sangat memahami perasaan itu—bahkan sampai pada titik kita menolak untuk beristirahat dan bersyukur atas perhatian orang lain, meskipun kita jelas-jelas membutuhkannya. Kita memaksakan diri untuk terus bekerja, walau semua orang di sekitar kita bisa melihat bahwa kita sedang menghancurkan diri sendiri—semata-mata karena kita takut menjadi beban bagi orang lain.
Tapi mungkin kita perlu meninjau kembali cara pandang itu.
Paulus memang menyinggung soal “menjadi beban,” tapi bukan dalam arti yang berlaku untuk semua orang. Ia berbicara tentang sekelompok orang tertentu—mereka yang malas bekerja padahal mampu, dan malah menggunakan waktu luangnya untuk ikut campur urusan orang lain, menyebarkan gosip, atau membuat kekacauan. Orang seperti ini justru menghambat pertumbuhan gereja, karena gereja akhirnya harus memikul beban yang seharusnya mereka bantu pikul. Mereka juga gagal bertumbuh dalam kedewasaan rohani di dalam Kristus.
Namun, Paulus tidak sedang menegur semua orang.
Ia tidak berbicara kepada orang yang sudah lanjut usia, yang masih kecil, yang sedang sakit, mengalami kelelahan, kehilangan pekerjaan, sedang berduka, atau tengah menghadapi situasi darurat.
Jika kita termasuk dalam kelompok ini, kita justru perlu belajar untuk menerima—belajar duduk tenang dan bersyukur atas perawatan yang Tuhan berikan melalui keluarga, teman, dan gereja-Nya.
Menolak pertolongan karena rasa bangga atau takut kehilangan jati diri yang dibangun dari pekerjaan kita, bisa menjadi masalah rohani tersendiri.
Tuhan Yesus menjadi Juruselamat kita bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih. Ia rela menderita, mati, dan bangkit kembali supaya kita diampuni dan menjadi anak-anak Allah. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh apa yang kita lakukan, tetapi oleh siapa yang kita miliki—yaitu Allah sendiri.
Allah menciptakan kita karena Ia ingin mengasihi kita, dan Ia menebus kita karena alasan yang sama.
Pekerjaanmu—atau ketiadaannya—bukan alasan keberadaanmu.
Kita ada untuk satu alasan: supaya Yesus dapat mengasihi kita.
DOA:
Tuhan yang penuh kasih,tolong aku sungguh-sungguh mengerti dan percaya bahwa Engkau mengasihiku bukan karena apa yang kulakukan,tetapi karena Engkau sendiri adalah kasih.Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah saudara cenderung bekerja terlalu keras atau justru terlalu sedikit?
- Kapan Yesus pernah mengandalkan bantuan orang lain untuk mendukung pelayanan-Nya? (Sebutkan dua atau tiga peristiwa.)
- Apakah Allah tetap akan mengasihimu jika saudara sama sekali tidak bisa melakukan apa pun?
