
Lukas 21:8, 12-19
8 Jawab-Nya: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.
12 Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.
13 Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.
14 Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu.
15 Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.
16 Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh
17 dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
18 Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.
19 Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Ada sesuatu yang agak aneh dalam bagian ini—sesuatu yang selama bertahun-tahun saya baca begitu saja tanpa benar-benar memperhatikannya. Apakah saudara melihatnya? Yesus dengan jelas berkata bahwa sebagian dari kita yang percaya kepada-Nya akan dibunuh karena nama-Nya. Sahabat dan keluarga mereka sendiri akan mengkhianati mereka, dan mereka akan ditembak, dirajam, atau disalib karena iman mereka. Namun, tak lama setelah itu, Yesus berkata, “Tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang.” Bagaimana mungkin? Bagaimana kita bisa mati dan tetap hidup pada saat yang sama?
Mengapa pula kita, orang Kristen, bisa membaca ayat ini berulang kali di gereja, mengangguk-angguk, tanpa merasa aneh?
Saya pikir alasannya karena kita secara naluriah tahu bahwa ketika Yesus berkata, “Tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang,” Ia sedang berbicara tentang kehidupan rohani kita—kehidupan sejati yang kekal yang sudah diberikan Allah kepada kita karena kita percaya kepada Yesus. Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk membebaskan kita dari kuasa dosa, maut, dan Iblis. Sekarang, karena Ia telah bangkit dan tidak akan mati lagi, Ia membagikan kehidupan kekal-Nya kepada kita.
Itu berarti apa pun yang terjadi pada tubuh jasmani kita, diri kita yang sejati aman untuk selama-lamanya. Musuh-musuh kita bisa memenjarakan, menyakiti, bahkan membunuh tubuh kita—tetapi setelah itu, mereka tak bisa melakukan apa pun lagi terhadap kita. Begitu kita meninggal, kita berada bersama Kristus. Dan kapan pun Yesus berkenan, Ia akan membangkitkan kita dari kematian. Ia memiliki kuasa dan otoritas itu—dan pada Hari Terakhir Ia akan melakukannya. Tak satu pun dari tubuh kita akan tertinggal di dalam kubur.
Artinya, di dalam Yesus, kita benar-benar aman. Apa pun ancaman yang datang, Yesuslah yang memegang kuasa atas hidup dan mati—dan tangan-Nya yang berlubang paku itulah yang menjaga kita. Tak seorang pun dapat merebut kita dari tangan-Nya. Karena itu, kita bebas. Kita tahu bahwa kematian bukanlah akhir, dan kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudari seiman kita. Maka kita memiliki harapan dan sukacita.
KITA BERDOA: Tuhan, terima kasih karena aku benar-benar aman di dalam Engkau. Amin.
Renungan oleh: Dr. Kari Vo
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah kematian adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seseorang?
- Mengapa ya atau mengapa tidak?
- Mengapa orang Kristen bisa tetap menyanyi dan bersukacita di tengah penganiayaan?
