DI Pintu Gerbang-Nya

Mazmur 122:1-4

1 Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” 

2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. 

3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 

4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.

Mazmur ini adalah Nyanyian Ziarah, salah satu dari kumpulan mazmur yang dilantunkan bangsa Israel ketika mereka melakukan perjalanan menuju Yerusalem. Mereka memuji Tuhan saat mereka menanjaki perbukitan Yehuda menuju kota Allah, tempat bait suci-Nya berada.

Seluruh laki-laki Israel diwajibkan melakukan tiga kali perjalanan ziarah setiap tahun. Keluarga-keluarga pun sering ikut serta, seperti yang dilakukan Yesus bersama orangtua-Nya (Lukas 2:41-42). Di Yerusalem, mereka merayakan tiga perayaan besar: Hari Raya Roti Tidak Beragi, Hari Raya Minggu-Minggu, dan Hari Raya Pondok Daun—perayaan panen yang mengingatkan perjalanan mereka di padang gurun menuju Tanah Perjanjian.

Dalam perayaan-perayaan ini, umat Tuhan mengingat segala perbuatan-Nya: bagaimana Ia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, menuntun mereka di padang gurun, dan memberkati mereka dengan hasil panen yang melimpah. Dengan hati bersukacita, mereka masuk ke rumah Tuhan, Bait Suci di Yerusalem.

Tidak lama lagi kita memasuki masa Advent, awal tahun gerejawi yang baru. Melalui musim dan perayaan gerejawi—Advent, Natal, Epifani, Prapaskah, Paskah, dan Pentakosta—kita mengikuti kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus. Kita mengingat karya-Nya bagi kita: kelahiran-Nya di Betlehem, pelayanan-Nya di dunia, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, pencurahan Roh Kudus, hingga pengharapan akan kedatangan-Nya kembali.

Sepanjang tahun—terutama pada hari-hari raya gerejawi—kita berkata dengan penuh sukacita, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan!” Bersama saudara-saudara seiman, kita berkumpul untuk beribadah, mengucap syukur, dan menerima karunia-Nya melalui Firman dan Sakramen.

Dalam masa Advent, kita merayakan kelahiran Yesus, tetapi kita juga menantikan apa yang akan datang bagi semua yang percaya kepada-Nya. Pada kedatangan-Nya yang kedua, pada Hari Terakhir, kita akan dibangkitkan secara jasmani. Bersama umat percaya yang masih hidup pada hari itu, kita akan dikaruniai tubuh yang mulia dan hidup selamanya di hadirat Allah. Di sana tidak akan ada lagi Bait Suci, “sebab Bait Suci kota itu ialah Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan Anak Domba itu” (Wahyu 21:22).

Kita akan bersukacita atas segala karya Allah, tetapi tidak akan ada lagi perjalanan ziarah tahunan. Kaki kita akan berdiri di pintu gerbang kota surgawi. Kita pulang ke rumah.

KITA BERDOA:


Tuhan Yesus, ketika aku merayakan seluruh karya-Mu yang membawa keselamatanku, aku menantikan kedatangan-Mu kembali. Datanglah, Tuhan Yesus! Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.

Pertanyaan Refleksi

  1. Bagaimana perayaan-perayaan dalam Perjanjian Lama memperkaya kehidupan rohani bangsa Israel?
  2. Apakah musim dan perayaan gerejawi juga melakukan hal yang sama bagi umat Tuhan saat ini? Dengan cara apa?
  3. Menjelang Natal, bagaimana saudara dapat menggunakan waktu ini untuk semakin dekat dengan Yesus?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top