
Berikut terjemahan dari lagu pujian “Thine the Amen”, nomor 680 dalam Lutheran Service Book
**“Milik-Mu kerajaan, milik-Mu anugerah,
Milik-Mu keajaiban penuh kejutan.
Milik-Mu perjamuan, lalu pujian.
Lalu keadilan atas segala jalan-Mu.
Milik-Mu kemuliaan, milik-Mu cerita.
Lalu sambutan bagi yang paling kecil.
Lalu keheranan yang terus bertambah
Dalam perjamuan-Mu, dalam perjamuan-Mu.
“Milik-Mu kemuliaan di malam,
Tak ada lagi kematian—hanya terang.
Milik-Mu sungai, milik-Mu pohon.
Lalu Anak Domba untuk selamanya.
Lalu ‘kudus, kudus, kudus,
’Perayaan penuh sukacita.
Milik-Mu keagungan, milik-Mu cahaya kemuliaan.
Hanya Engkau, hanya Engkau.”**
Sifat berdosa kita membuat kita cenderung menjadi pribadi yang sangat berpusat pada diri sendiri—selalu memikirkan kebutuhan dan kepentingan pribadi lebih dulu. Kita sudah sangat terlatih melakukan ini dan kita melakukannya dengan baik. Hidup kita menunjukkan bahwa kita telah “menukarkan kebenaran tentang Allah dengan dusta, dan memuja serta melayani makhluk dan bukan Sang Pencipta” (Roma 1:25b). Terang-terangan maupun diam-diam, kita sering menyembah diri sendiri. Kita dipanggil untuk bertobat dari fokus yang diarahkan ke dalam ini; dan di dalam Kristus, kita menerima pengampunan. Roh Kudus menuntun kita untuk melihat keluar—mengasihi dan melayani sesama—sebagaimana Yesus yang di kayu salib mengutamakan kebutuhan kita lebih dari diri-Nya sendiri.
Namun, sekalipun kita sudah diarahkan untuk melayani orang lain, kita masih bisa tergoda untuk berpikir bahwa segala sesuatu—termasuk kisah keselamatan—berpusat pada kelayakan dan pilihan kita. Padahal kisah keselamatan dan seluruh kemuliaannya hanya milik Allah, Sang Pencipta dan Penebus. Ayat Alkitab yang sangat kita kenal mengingatkan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yohanes 3:16a). Allah-lah yang mengasihi dunia. Allah-lah yang memberikan Anak-Nya. Dengan iman yang dikerjakan Roh Kudus dalam hati kita, tugas kita hanyalah menerima karunia kasih dan anugerah-Nya.
Suatu hari nanti kita akan memahami sepenuhnya kemuliaan kebenaran ini ketika kita berdiri di hadapan takhta Allah dan berseru memuji bersama semua orang kudus: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta, dan bagi Anak Domba!” (Wahyu 7:10b). Allah menciptakan kita. Melalui pemberian Anak-Nya, Ia menebus kita. Dan melalui Roh Kudus, Ia menumbuhkan iman dalam hati kita. Kidung kita merayakan kebenaran bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah: “Milik-Mu kerajaan … anugerah … perjamuan … pujian … kemuliaan … cerita … sambutan bagi yang kecil.” Hidup kekal dalam hadirat Allah, kita akan mengetahui bahwa Ia adalah “segala-galanya di dalam semua” (1 Korintus 15:28b). Bagi kita, tidak akan ada lagi kematian—hanya terang. Kita akan mengalami “keheranan yang terus bertambah” dalam perjamuan-Nya, yaitu perjamuan kawin Anak Domba. Dengan sifat egois yang akhirnya dipulihkan sepenuhnya menjadi hati yang tertuju kepada Allah, kita akan memahami—dengan kedalaman yang belum pernah kita alami—bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah saja. “Hanya Engkau, hanya Engkau.”
DOA:
Ya Tuhan Allah, hanya oleh kasih karunia-Mu, suatu hari nanti aku akan mengenal keajaiban hidup yang semakin bertambah dalam hadirat-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler.
Berdasarkan himne “Thine the Amen”, nomor 680 dalam Lutheran Service Book.
Pertanyaan Refleksi:
- Hal apakah yang sering menghalangi devosi atau kesetiaan saudara kepada Allah?
- Bagaimana Roh Kudus menolong saudara menempatkan Yesus sebagai yang terutama dalam hidup saudara ?
- Bagaimana melayani sesama dapat menolong kita terhindar dari sifat yang terlalu berpusat pada diri sendiri?
