
Yohanes 1:23
Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”
Beberapa tahun lalu saya menemukan dua kalimat yang sangat membekas dalam kehidupan rohani saya. Yang pertama ada dalam sebuah renungan yang ditulis oleh Pdt. Arnold Kuntz dalam Devotions for the Chronologically Gifted. Ia menulis, “Hidup semakin menyempit, dan krisis datang. Dan tiba-tiba hanya satu hal yang benar-benar penting, dan di sana, di tempat yang sempit itu, berdirilah Yesus.” Kalimat yang lain adalah hikmat dari Perjanjian Lama: “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu” (Pengkhotbah 12:1a).
Ketika saya bertumbuh dan mulai memasuki masa dewasa, hidup terasa terbuka lebar. Itu masa penuh harapan dan impian akan masa depan. Dan memang seharusnya begitu. Tetapi cepat atau lambat, penyempitan itu datang; iman menjadi sesuatu yang pribadi; dan kita sadar kita sedang menuju kepada Sang Pencipta. Pemazmur menulis, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).
Seperti Yohanes Pembaptis dalam ayat di atas—ia belum tahu bahwa Yesus dari Nazaret adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, sampai Allah menyatakannya kepadanya. Dan setelah itu, ia percaya. Sama juga dengan kita. Kita bisa saja rajin menampilkan kesan luar dari agama, tetapi kalau Firman Allah tidak sungguh-sungguh diterima dengan iman di dalam hati, maka ketika hidup mulai menyempit dan krisis datang, kita tidak punya jalan keluar.
Jadi, apa kabar baik untuk kita hari ini? Inilah: ketika hidup menyempit, kita memandang kepada Yesus. Bagaimana “penyempitan” itu bisa kita alami? Bisa lewat sakit penyakit. Bisa lewat konflik dan hubungan yang retak. Bisa lewat usia yang makin menua. Ya, masalah-masalah itu sering datang dan membuat kita lebih fokus pada yang kekal. Tetapi ada juga “penyempitan” terbaik yang datang melalui pertobatan setiap hari. Kita tidak boleh hanya sekali pergi ke padang gurun untuk mendengar pesan Yohanes, lalu kembali lagi pada cara hidup lama kita.
Setiap hari kita harus mencari Allah. Anak muda tidak boleh menunda pertobatan sampai rambut memutih. Orang dewasa yang sibuk tidak boleh menunda pertobatan sampai mereka merasa punya waktu luang. Siapa yang tahu berapa lama lagi kita punya waktu hidup? Penulis kitab Ibrani berkata, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu” (Ibrani 4:7b). Kabar baiknya adalah: penyempitan hidup ini memang tidak bisa dihindari. Tetapi ketika krisis penghakiman atas dosa-dosa kita datang, di sana berdiri Yesus.
Kiranya kita dapat menyanyikan kata-kata dari lagu “Lift Up Your Heads, Ye Mighty Gates” dengan penuh kasih dan rasa syukur atas apa yang telah Allah lakukan bagi kita melalui anugerah Anak-Nya:
“Penebus, datanglah, kami buka lebar hati kami bagi-Mu: tinggallah di sini, ya Tuhan. Biarlah kami merasakan kehadiran-Mu di dalam, nyatakanlah kasih dan anugerah-Mu di dalam kami; biarlah Roh Kudus-Mu menuntun kami, sampai mahkota kemuliaan itu dimenangkan.”
KITA BERDOA: Bapa Surgawi, tariklah kami kepada Yesus agar kami berpegang pada-Nya dengan iman. Dalam Nama-Nya kami berdoa. Amin.
Renungan Harian ini diambil dari khotbah “Life Narrows Down” oleh Pdt. Dr. Dale Meyer, Speaker Emeritus of The Lutheran Hour.
Pertanyaan untuk direnungkan:
- Apakah pandanganmu tentang hidup dan segala kemungkinannya berubah seiring waktu (lebih baik atau lebih buruk)? Mengapa?
- Apa manfaatnya “menghitung hari-hari kita” (menyadari keterbatasan hidup) dalam jangka pendek? Dalam jangka panjang?
- Apakah menurutmu hari ini orang lebih mudah mengeraskan hati terhadap Allah dibanding 20 tahun lalu? 40 tahun lalu? Jika ya, mengapa hal itu bisa terjadi?
