Hidup dengan Murah Hati

Imamat 18:1-2, 19:9-10

1 TUHAN berfirman kepada Musa: 

2 “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. 

Imamat 19:9-10 (TB)

9 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.

10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

Saya tertarik bahwa Tuhan memberi petunjuk yang sangat spesifik tentang bagaimana orang Israel harus memanen gandum dan anggur mereka. Tuhan meminta mereka melakukan hal yang justru bertolak belakang dengan cara berpikir kebanyakan orang zaman sekarang—yaitu jangan mengambil semuanya sampai habis, jangan pungut sampai ke pinggir-pinggirnya.

Tentu saja Tuhan punya alasan yang sangat baik. Gandum yang tersisa dan anggur yang jatuh itu disediakan bagi siapa saja yang membutuhkan—biasanya orang miskin, yang lapar, atau pendatang asing yang tidak punya tanah atau panen sendiri. Dengan memberi mereka bagian dari panen orang lain, Tuhan menyediakan kebutuhan mereka dan sekaligus mengajarkan bangsa Israel untuk hidup dengan hati yang murah.

Ini adalah prinsip hidup yang bagus—yakni menyisihkan sedikit dari apa yang kita punya demi menolong orang lain yang membutuhkan. Sebagai contoh, saya pernah ikut konferensi gereja—dan di akhir acara, banyak pensil dan kertas catatan tersisa di meja. Barang-barang itu kemudian membantu anak-anak sekolah dari jemaat Vietnam kami. Atau, setelah ibadah dan acara makan bersama, biasanya ada makanan yang tersisa—makanan itu bisa diberikan kepada yang membutuhkan. Di LWML (Persekutuan Wanita Lutheran), uang receh dari saku pun dikumpulkan lewat mite boxes—dan itu telah mendanai pelayanan misi ke berbagai belahan dunia.

Hidup dengan murah hati memerlukan dua sikap penting:
Pertama, kepedulian terhadap sesama manusia—siapa pun mereka dan dari mana pun asal mereka. Semua orang penting di mata Yesus, dan Dia memanggil kita untuk mengasihi mereka seperti Dia telah mengasihi kita (lihat Matius 25:31-40). Maka jangan ada satu pun yang kita abaikan—baik itu orang miskin, penyandang disabilitas, imigran, anak-anak, ataupun mereka yang sering diabaikan oleh masyarakat karena alasan apa pun.

Kedua, kita perlu memiliki sikap yang jeli terhadap berkat-berkat kecil yang sering tidak diperhatikan. Setelah Yesus memberi makan ribuan orang, Ia menyuruh para murid untuk mengumpulkan sisa makanan. Ia memperhatikan sumber makanan yang masih bisa digunakan untuk menolong orang lain—dan Ia memanfaatkannya.

Pada akhirnya, kita hidup murah hati karena Tuhan sendiri terlebih dahulu sangat murah hati kepada kita. Ia tidak membiarkan kita hidup dari remah-remah kasih karunia-Nya—tidak! Ia melihat kebutuhan kita dan mengirimkan yang terbaik: Yesus Kristus, Anak-Nya sendiri, untuk menjadi Juruselamat kita dan membebaskan kita dari kuasa dosa dan kejahatan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menebus kita menjadi anak-anak Allah, yang diampuni dan akan hidup selamanya. Dengan karunia yang sebesar itu, bagaimana mungkin kita tidak bermurah hati terhadap sesama?

KITA BERDOA:

Bapa yang pengasih, terima kasih atas karunia-Mu yang luar biasa melalui Yesus! Ajarlah aku untuk peduli dan bermurah hati terhadap sesama-Mu yang kecil di dunia ini. Amin.

Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Siapa yang biasanya saudara pikirkan terlebih dahulu ketika membagi uang atau harta benda saudara ?
  2. Siapa lagi yang sebenarnya bisa saudara tolong, namun belum saudara jangkau saat ini?
  3. Adakah orang yang menurut saudara akan dikecualikan dari kasih Yesus—atau dari kasih saudara? Bagaimana saudara tahu?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top