KEMANUSIAAN YESUS

 

 

KEMANUSIAAN YESUS

Selasa, 10 Januari 2023

Meaning of Life ditulis oleh Dr. Kari Vo

Yesaya 49:1-7 (TB)

1 Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.
2 Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.
3 Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.”
4 Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.”
5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku —, firman-Nya:
6 “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
7 Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: “Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.”

Perikop dari Yesaya ini adalah gambaran Kemanusiaan Yesus yang luar biasa. Seringkali kita berfokus pada Yesus sebagai Tuhan—kuasa-Nya, kekudusan dan kebaikan-Nya, cara Dia menyediakan bagi kita. Tetapi di sini kita memiliki Yesus dengan kata-kata-Nya sendiri yang memberi tahu kita bagaimana rasanya menjalani hidup-Nya sebagai seorang Manusia, seorang hamba Allah.
Dan apa yang Dia tunjukkan kepada kita? Dia menghadapi konflik yang sama seperti yang kita hadapi. Allah Bapa telah memanggil Yesus untuk melakukan pekerjaan tertentu, untuk membawa orang-orang di dunia kembali kepada-Nya—dan Yesus mengetahui hal ini. Dia menyebutkan bagaimana Tuhan menamaiNYA ketika Dia dikandung dalam rahim Maria, bagaimana Tuhan mempersiapkan Dia seperti senjata untuk digunakan melawan kekuatan jahat.
Lagipula Yesus tahu perasaan yang sama yang kita miliki seperti stres, ketakutan, dan depresi. Semua kerja keras-Nya, baik penyembuhan,pengajaran, perjalanan dan perdebatannya —apakah semua itu ada gunanya? Seperti manusia pada umumnya, Dia menaruh kepercayaan-Nya pada Bapa, dan bersandar pada-Nya untuk mendapatkan kekuatan. Anak Tuhan yang berinkarnasi inipun tidak malu berperilaku seperti orang percaya pada umumnya, Dia adalah contoh buat kita semua.
Dan Bapa berkata kepada-Nya: “Tidaklah cukup bagi-Mu menjadi Juruselamat Israel saja: Aku akan memberikan-Mu sebagai terang bagi bangsa-bangsa, agar keselamatan-Ku sampai ke ujung bumi!” Dan Yesus menganggap suatu kehormatan bahwa Bapa telah memercayai Dia untuk menyelamatkan kita semua—melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sendiri.
Saya bersyukur atas pandangan hati Yesus ini—mendekati perasaan dan pergumulan-Nya sebagai Manusia serta kuasa dan kemuliaan-Nya sebagai Tuhan. Yesus yang manusiawi dan ilahi ini adalah Juruselamat kita.
Syukur kepada Tuhan! Amin.

KAMI BERDOA: Bapa Surgawi, terima kasih telah mengirimkan Putra-Mu kepada kami. Amin.

Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.

Pertanyaan Refleksi:

1. Apakah ada yang mengejutkan saudara dalam perikop dari Yesaya ini? Apa dan mengapa?

2. Apakah saudara pernah berpikir pasti mudah bagi Yesus untuk melakukan apa yang Dia lakukan, karena Dia adalah Allah?

3. Jika ya, apakah menurut Anda masih demikian?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top