
Bacaan ini diambil dari Three Year Lectionary, sehingga mungkin tidak sama dengan bacaan yang dipakai di gereja Anda minggu ini.
Yehezkiel 3:4-7a, 9b-11
4 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.
5 Sebab engkau tidak diutus kepada suatu bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, tetapi kepada kaum Israel;
6 bukan kepada banyak bangsa-bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, yang engkau tidak mengerti bahasanya. Sekiranya Aku mengutus engkau kepada bangsa yang demikian, mereka akan mendengarkan engkau.
7 Akan tetapi kaum Israel tidak mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku, ……………..
9 ……………..janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak.”
10 Selanjutnya firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya.
11 Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.”
Inilah kisah pertemuan pertama Yehezkiel dengan TUHAN, saat Allah memanggilnya menjadi nabi-Nya. Bisa dibayangkan betapa mengecilkan hati panggilan itu! Tuhan memberinya pesan yang penuh dengan “ratapan, keluh kesah, dan celaka” (Yeh 2:10b). Dan Tuhan mengutusnya untuk menyampaikan pesan itu, tetapi sekaligus memperingatkannya: “Kaum Israel tidak akan mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku.”
Tidak heran kalau Yehezkiel merasa pahit dan hancur hati (lihat Yeh 3:14-15). Namun, ia tetap melakukan apa yang Tuhan inginkan untuk dia lakukan. Apakah ia melihat ada harapan bagi bangsa itu?
Mungkin. Sebab kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Allah justru memanggil seorang nabi baru pada saat itu. Kalau Allah benar-benar sudah menyerah pada umat-Nya, Ia tidak akan melakukannya, bukan? Tentu saja tidak! Sekeras apa pun hati Israel, mereka tetap umat kesayangan Allah. Dia ingin mereka bertobat, kembali kepada-Nya dalam iman.
Apa hubungannya ini dengan kita sekarang? Ini mengingatkan kita bahwa betapapun buruk keadaan dunia, Allah tidak pernah menyerah atas umat manusia. Allah tetap sangat peduli, penuh kasih, meskipun kita sering menyakiti hati-Nya. Dia tidak akan meninggalkan kita. Ia sudah membuktikannya: Dia datang ke dunia untuk menjadi sama seperti kita—Yesus Kristus, Juruselamat kita. Sebagai manusia, Ia hidup di tengah kita, melayani, peduli, menyembuhkan, dan mengajar. Lalu Ia rela menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menghancurkan kuasa dosa atas kita dan membawa kita kembali kepada Allah. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan kuasa maut—baik kematian jasmani maupun rohani; dan sekarang Ia menjadi hidup dan sukacita kita untuk selamanya.
Yehezkiel tidak bisa mengubah hati yang keras dari umat Allah—tetapi Yesus bisa, dan memang sudah melakukannya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia telah membebaskan kita dari perbudakan dosa, memberi kita hati yang baru, hati yang mengasihi Allah dan mau mendengarkan Dia. Sekarang kita adalah bagian dari tubuh Kristus, dipenuhi Roh Kudus, hidup dalam kehidupan baru dari Tuhan yang bangkit. Semua ini kita miliki—karena Tuhan mengasihi kita.
DOA: Tuhan yang baik, terima kasih Tuhan…. Jagalah hatiku agar selalu tertuju kepada-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Mengapa orang bisa begitu mudah berpaling dari Allah
- Apakah saudara mau menerima pekerjaan seperti Yehezkiel? Mengapa ya atau mengapa tidak?
- Yesus telah memperbarui hidupmu melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Menurutmu, adakah sesuatu yang lain yang sanggup melakukannya?
