
Ibrani 3:1-6
1 Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus,
2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musa pun setia dalam segenap rumah-Nya.
3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya.
4 Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.
5 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian,
6 tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.
Saya ingat ketika saya berusia lima tahun, orang tua saya membangun rumah dua lantai di California Selatan, di sebuah daerah yang dulunya adalah padang rumput ternak. Membangun rumah membutuhkan banyak langkah. Awalnya, tidak ada apa-apa selain tanah yang tergali. Seiring berjalannya waktu, rangka rumah mulai berdiri. Kami, anak-anak, senang berjalan masuk dan keluar dari rangka kayu yang saat itu menjadi satu-satunya dinding yang ada, melangkah dari dalam ke luar dalam sekejap mata.
Kemudian atap dan lantai dipasang, disusul oleh pemasangan pipa dan listrik, hingga akhirnya sentuhan akhir—kaca di jendela, cat di dinding. Dan kemudian kami pindah ke dalamnya. Itulah tujuan dari setiap tahap pembangunan rumah—hari di mana kami bisa tinggal di dalamnya.
Dalam bacaan hari ini, penulis menyebut Yesus sebagai “layak menerima kemuliaan lebih besar daripada Musa, sama seperti pembangun sebuah rumah lebih dihormati daripada rumah itu sendiri.” Tunggu dulu. Musa adalah rumah? Yesus adalah pembangun Musa?
Oh ya—dan bukan hanya Musa. “Kita adalah rumah-Nya,” demikian dikatakan dalam Alkitab, “jika kita tetap teguh dalam kepercayaan dan kebanggaan pengharapan kita.” saudara, saya, dan setiap orang Kristen, bersama-sama, sedang “dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh” (Efesus 2:22b). Kita adalah rumah Allah. Dan Dia berniat untuk tinggal di dalamnya—sebenarnya, Dia sudah tinggal di dalamnya, sebagaimana Yesus berfirman: “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersamanya” (Yohanes 14:23b).
Bagaimana mungkin? Kita tahu siapa diri kita—tembok yang setengah jadi, tidak bisa menahan angin, apalagi sekelompok anak kecil yang penasaran! Tetapi Allah belum selesai dengan kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membeli kita untuk menjadi milik-Nya. Dia telah menjadikan diri-Nya sebagai dasar yang kokoh bagi kita, dan kita tidak akan pernah roboh. Dan akan tiba saatnya ketika rumah Allah akan selesai dengan segala keindahan dan kemuliaannya—ketika umat Allah akan bersukacita bersama melihat apa yang telah Yesus bangun. Dan Dia akan tinggal bersama kita dan di dalam kita selamanya.
KITA BERDOA: Tuhan yang terkasih, tinggallah bersama saya sekarang dan selamanya! Amin.
Renungan ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Jika saudara seorang pembuat Rumah profesional, seberapa besar usaha yang akan saudara berikan untuk membangun rumah yang akan saudara tinggali sendiri—bekerja sedikit, banyak, atau sebanyak yang diperlukan
- Mengapa perlu menghabiskan begitu banyak waktu dan usaha ekstra?
- Apa pendapat saudara tentang bagaimana perasaan Allah terhadap saudara—sebagai rumah tempat Dia ingin tinggal selamanya?
