
2 Timotius 1:1-2, 4-6, 8-14
1 Dari Paulus……
2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: …..
4 ….. aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
9 Dialah yang menyelamatkan kita …… berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, ……
10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.
12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Paulus sedang menderita ketika menulis surat ini, tetapi ia juga penuh sukacita. Ia menguatkan Timotius untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya—yaitu “menjaga harta yang indah” yang telah dipercayakan Allah kepada mereka berdua. Dan Roh Kudus juga telah memberikan harta yang sama kepada kita untuk dijaga dan diteruskan kepada orang lain—yaitu Kabar Baik tentang Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Dan jangan salah, ini sungguh sebuah harta berharga—karena inilah kisah sejati tentang bagaimana “Juruselamat kita Kristus Yesus … telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang kekal melalui Injil.” Hingga hari ini, sebagian besar dunia belum mengenal kisah ini; tetapi kita tahu, dan kita berusaha membagikannya kepada sebanyak mungkin orang. Karena inilah kabar terbaik—bahwa Allah sendiri telah turun ke dunia kita yang penuh maut untuk menyelamatkan kita. Melalui kematian-Nya, Yesus telah menghancurkan kuasa maut, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia menjadi Sumber hidup bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, baik lemah maupun kuat, miskin maupun kaya. Adakah kabar yang lebih baik daripada ini?
Saya menulis renungan ini sementara menunggu kepergian seseorang yang saya kasihi. Saya membenci maut; tetapi saya sangat bersyukur karena saya tidak hidup seperti orang yang tidak punya pengharapan. Saya tahu bahwa Yesus adalah Tuhan atas seluruh ciptaan, dan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia sedang menebus segala sesuatu dan menjadikannya ciptaan baru—tempat di mana tidak ada lagi maut, tidak ada tangisan, dukacita, atau kesakitan. Memang, sekarang kita masih menderita; tetapi bahkan di tengah penderitaan kita memiliki pengharapan, sebab kita memiliki harta berharga yang Yesus berikan kepada kita. Dan kita dipanggil untuk menjaga dan membagikan harta itu kepada orang lain yang juga membutuhkan pengharapan yang sama.
DOA: Tuhan Yesus, tolong kami untuk tetap percaya kepada-Mu ketika kami berduka atau takut. Engkaulah Tuhan yang memberi hidup kepada yang mati, dan yang memelihara kami tetap aman di dalam-Mu untuk selamanya. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Jika seseorang mempercayakan sebuah harta kepadamu, bagaimana saudara akan menjaganya? Mengapa?
- Bagaimana saudara menghadapinya ketika seseorang yang engkau kasihi sedang sekarat?
- Bagaimana kebangkitan Yesus memberi kita pengharapan yang pasti dan dapat diandalkan?
