
Yeremia 23:16-17, 21-23, 25, 28a
Beginilah firman TUHAN semesta alam:
16 Beginilah firman TUHAN semesta alam: “Janganlah dengarkan perkataan para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut TUHAN;
17 mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!”
21 “Aku tidak mengutus para nabi itu, namun mereka giat; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.
22 Sekiranya mereka hadir dalam dewan musyawarah-Ku, niscayalah mereka akan mengabarkan firman-Ku kepada umat-Ku, membawa mereka kembali dari tingkah langkahnya yang jahat dan dari perbuatan-perbuatannya yang jahat.
23 Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga?
25 Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!
28 Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! ………..
Yeremia sedang membahas masalah yang juga masih kita hadapi hari ini—bahkan mungkin lebih parah dibanding zaman Israel kuno. Setiap surat kabar, setiap situs web, semuanya mencoba memberitahu kita apa yang akan terjadi di masa depan. Para politisi juga melakukan hal yang sama. Ada yang meramalkan surga di bumi, ada pula yang menubuatkan kehancuran—namun semuanya memiliki satu kesamaan: mereka memprediksi masa depan berdasarkan pemikiran manusia, dan biasanya dilakukan untuk memengaruhi kita.
Mereka ingin mendapatkan pengikut! pembaca, pemilih, dan pendukung setia. Ini tidak mengherankan. Namun motivasi mereka yang egois membuat kita bertanya-tanya: berapa banyak dari yang mereka katakan itu benar? Andai saja kita memiliki seseorang yang benar-benar bisa dipercaya!
Dan sesungguhnya kita punya, bukan? Karena Allah sendiri mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Dia tidak butuh apa pun dari kita—bukan klik, bukan suara pemilu, bukan langganan. Yang Dia inginkan adalah kesejahteraan kita, dan yang Dia minta adalah kepercayaan kita. Dan Dia layak mendapatkannya, karena siapa di dunia ini—seorang “influencer” sekalipun—pernah menyerahkan nyawanya demi menyelamatkan orang-orang yang mempercayainya?
Tidak ada, kecuali Yesus. Sebab Dia bukan hanya seorang tokoh yang bicara di televisi, berusaha membuat kita mengikutinya. Tidak, Dia adalah Allah sendiri yang turun dari surga untuk hidup di antara kita sebagai manusia, bekerja keras, peduli pada orang-orang yang menderita, menderita, mati, dan bangkit dari kematian—semua itu di hadapan saksi manusia. Dan mengapa? Karena Dia melihat bahwa kita berada dalam masalah, hidup di dunia yang rusak penuh kejahatan, diperbudak dosa dan rasa malu. Dan Dia datang untuk membebaskan kita.
Itu semua mengorbankan segalanya dari-Nya. Itulah arti dari salib. Namun sekarang, Dia menawarkan segalanya kepada kita secara cuma-cuma—pengampunan, damai sejahtera, sukacita, kehidupan sejati, dan tempat dalam keluarga Allah sendiri. Kini kita tidak perlu takut akan masa depan, karena kita tahu bahwa Pribadi yang memegang masa depan adalah Dia yang mengasihi kita lebih dari siapa pun. Dia telah membuktikannya. Dan Dia akan menyertai kita dan menolong kita, apa pun yang terjadi, sampai hari Ia datang kembali dalam kemuliaan untuk mengakhiri sejarah manusia.
KITA BERDOA:
Tuhan, saat aku khawatir tentang masa depan, tolong arahkan aku untuk memandang kepada-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
1. Siapa yang akhir-akhir ini kamu dengar sedang memprediksi masa depan? Apakah itu membuatmu merasa cemas atau justru tenang?
2. Masa depan seperti apa yang dijanjikan Yesus bagi mereka yang menjadi milik-Nya?
3. Jika kamu percaya pada-Nya, bagaimana hal itu mengubah cara hidupmu sekarang?
