
Matius 24:35-44
35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”
37 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
40 Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
41 kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
Ini gambaran tentang hari-hari terakhir yang jarang kita dengar—suatu masa ketika, dalam pandangan kebanyakan orang, hidup berjalan seperti biasa, sama seperti hari-hari sebelumnya. Orang makan dan minum, bertani dan membuat roti, melakukan rutinitas mereka seperti biasa. Lalu, tiba-tiba! Semuanya berakhir. Yesus datang kembali, dan siap atau tidak, dunia harus menghadap Dia.
Setelah membaca ini, kita bisa mengerti mengapa gambaran lain tentang akhir zaman—yang sering dijadikan film atau buku best seller—terasa menarik. Gambaran dengan tokoh-tokoh jahat terkenal, mukjizat yang mencolok, dan bagan nubuatan yang seolah-olah memberi tahu persis apa yang terjadi dan kapan. Gambaran yang membuat kita berpikir: bagaimana mungkin ada orang yang tidak siap menyambut kedatangan Yesus yang kedua?
Namun di sini, Yesus sendiri menjelaskan bagaimana itu mungkin terjadi. Karena meskipun semua firman Alkitab pasti digenapi, dari sudut pandang kebanyakan orang, semuanya tampak sebagai peristiwa biasa. Perang? Ya, tapi perang selalu ada. Gempa bumi? Biasa. Wabah? Fenomena alam aneh? Penganiayaan? Yaitu orang yang meninggalkan iman?
Semua itu terdengar seperti “rutinitas dunia”.
Karena itu, kita harus sungguh-sungguh mendengarkan kata-kata Yesus jika ingin siap—jangan mengira kita akan “tahu-tahu saja” kalau waktunya sudah dekat. Kita tidak akan tahu. Yesus berkata dengan sangat jelas: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”
Karena itu, kita yang mengasihi Dia akan melakukan apa yang Dia katakan. Kita menantikan kedatangan-Nya, memastikan bahwa kapan pun Ia datang, Ia mendapati kita sedang percaya kepada-Nya—percaya kepada Dia yang menderita, mati, dan bangkit untuk menjadikan kita anak-anak Allah. Saya ingin ketika Ia datang, Ia mendapati saya melakukan yang Ia perintahkan untuk saya lakukan—yaitu : mengikuti Dia, mengasihi umat-Nya, dan memberitakan Kabar Baik Yesus kepada orang lain.
KITA BERDOA:
Tuhan, tetapkan hatiku hanya kepada-Mu, dan biarlah aku selalu siap menyambut-Mu kapan pun Engkau datang. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
Pertanyaan Refleksi:
- Ketika kecil, pernahkah saudara harus siap dengan PR atau pekerjaan rumah saat orangtua pulang?
- Jika ya, bagaimana hasilnya? Mengapa?
- Apa motivasi saudara untuk siap menyambut Yesus—takut atau kasih? Mengapa?
