Digoda oleh Dunia

Galatia 6:1-2, 14-18

1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.
15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.
17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.
18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

Ada satu pencobaan yang jarang kita dengar akhir-akhir ini—dan sayangnya, justru karena jarang dibahas, pencobaan ini kini menghantam kita lebih keras dari sebelumnya. Yaitu pencobaan dari dunia—pencobaan untuk memperoleh apa yang kita inginkan melalui kekuatan duniawi, dengan berpaling dari Kristus dan salib-Nya. Pencobaan ini muncul ketika kita menghadapi masalah, dan pertanyaan pertama kita bukan lagi, “Apa yang Tuhan ingin aku lakukan?” melainkan, “Bagaimana aku bisa mengatur keadaan dan orang-orang agar semuanya berjalan sesuai keinginanku?”

Lihat perbedaannya?

Pertanyaan pertama lahir dari hati yang berpusat pada Yesus—kita memperhatikan Dia dan mencari kehendak-Nya. Pertanyaan kedua muncul ketika kita menjalani hidup berdasarkan hikmat kita sendiri; Tuhan hanyalah pikiran yang datang belakangan—jika Dia terpikir sama sekali. Melawan pencobaan ini, Paulus berkata: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” Melalui salib itu, katanya, dunia telah disalibkan baginya, dan ia bagi dunia. Sunat atau tidak sunat tidak berarti apa-apa, yang penting adalah menjadi ciptaan baru.

Bagi Paulus, Yesus adalah segalanya—Tuhan yang ia kasihi dan ikuti di atas segalanya.Dan Paulus memiliki alasan kuat: Yesus adalah Allah sendiri, yang menjadi manusia untuk menyerahkan nyawa-Nya dan menyelamatkan kita dari kuasa kejahatan. Yesus tidak mengejar kekuasaan; Ia tidak memanipulasi; Ia tidak membuat kesepakatan curang. Sebaliknya, Ia terus mengarahkan pandangan-Nya kepada kehendak Bapa, dan itulah yang Ia lakukan—setiap langkah, sampai ke salib.

Dan Ia percaya kepada Bapa untuk membangkitkan-Nya dari kematian—meskipun tampaknya mustahil.Kini Yesus hidup selama-lamanya, dan demikian pula kita—semua yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Itulah anugerah yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

______________
KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, jagalah agar mata dan hatiku tetap tertuju kepada-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
______________

Pertanyaan Refleksi:

1. Kapan saudara tergoda untuk menggunakan cara-cara dunia guna mendapatkan apa yang saudara inginkan, bukannya datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya?

2. Jika saudara sungguh mengikuti Yesus di atas segalanya, bagaimana sikap dunia terhadapmu? Apakah saudara bersedia membayar harga itu?

3. Menurut saudara Bagaimana dengan Yesus? Bagaimana perasaan Tuhan Yesus terhadap pilihan yang saudara buat?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Scroll to Top