
Lukas 10:1-3, 8-9
1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu,
9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.
Saat saya masih kecil, saya merasa sangat takut pada Minggu Misi di gereja. Saya sering berdiri di bagian paling belakang gereja, berharap Tuhan tidak memperhatikan saya—karena bagaimana jika Dia menunjuk saya dan mengutus saya ke Afrika? Yang saya tahu tentang Afrika hanyalah rumput tinggi, dan saya yakin alergi saya akan membunuh saya di sana.
Mungkin Tuhan tertawa. Karena, tentu saja, sekarang saya bekerja untuk organisasi misi Lutheran Hour Ministries, dan dalam kehidupan di luar pekerjaan, saya melayani misi bagi para imigran Vietnam di St. Louis! Dan semua ini tidaklah menakutkan seperti yang saya bayangkan. Bahkan, saya terlibat dalam pelayanan misi jauh sebelum saya menyadari bahwa itu adalah “pelayanan misi”. Anggap saja , saya hanya sedang membantu anak-anak mengerjakan PR mereka.
Dalam cerita hari ini, Yesus mengutus 70 orang ke kota dan tempat “yang hendak dikunjungi-Nya.” Tugas mereka sangat sederhana: mempersiapkan kedatangan Yesus. Mereka akan berbicara sedikit dan menyembuhkan beberapa orang dengan otoritas terbatas yang diberikan Yesus. Dan itu sudah cukup. Karena mereka tahu bahwa mereka bukan pusat perhatian—Yesuslah pusat segalanya.
Hal itu tetap berlaku hingga hari ini, entah Yesus mengutus kita ke negeri lain sebagai misionaris, atau mempertahankan kita di kota sendiri untuk menjadi saksi-Nya di sini. Kita dipanggil untuk mempersiapkan kedatangan-Nya melalui hidup kita dan perkataan kita. Kita bukan inti utamanya—Yesuslah pusat dari segala sesuatu.
Yesus adalah Pribadi yang datang ke dunia ini dalam misi dari Bapa-Nya, turun dari surga menjadi manusia seperti kita. Ia datang untuk mematahkan kuasa iblis atas kita dan membebaskan kita dari kejahatan—bukan dengan kekuatan senjata, tetapi melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sendiri. Karena Yesus mati bagi kita, kita yang percaya kepada-Nya telah dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Karena Yesus bangkit bagi kita, kita yang milik-Nya akan hidup bersama-Nya selamanya sebagai anak-anak Allah, penuh sukacita dan kasih. Dan semua itu karena Yesus—yang mengasihi kita dan memberi kita bagian dalam misi-Nya—untuk memberitakan kabar baik yang telah memberikan kita hidup.
______________
KITA BERDOA:
Tuhan Yesus yang terkasih, pakailah aku agar orang lain dapat percaya kepada-Mu. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
______________
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah saudara merasa gugup saat ingin bersaksi mengenai imanmu kepada orang lain?
2. Jika iya, maukah saudara meminta Yesus untuk membantumu mengatasi rasa takut itu?
3. Mintalah kepada-Nya agar Ia memberi kesempatan untuk berbicara tentang Dia kepada seseorang—dan biarlah percakapan itu sudah berjalan jauh sebelum saudara sadar bahwa saudara sedang bersaksi!
