
Yesaya 66:10-14
10 Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya!
11 supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas.
12 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.
13 Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem.
14 Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.
Sulit bagi saya membaca bagian ini tanpa mengingat tahun ketika saya menyusui anak saya. Ia lahir prematur, dan harus makan setiap 90 menit. Rasanya seperti saya tidak pernah berhenti menyusui!
Karena kehamilan itu berisiko dan tahun pertamanya sangat berat, saya pun menyadari betapa rapuhnya hubungan antara ibu menyusui dan bayinya. Begitu banyak hal yang bisa mengganggu relasi itu. Jika ibu makan makanan yang salah, jika bayi sakit, jika keluarga tidak berada di tempat yang aman, jika ada stres atau bahaya terus-menerus—maka suplai ASI bisa berhenti, dan bayi akan menderita karenanya.
Tetapi itu bukan gambaran yang dilukiskan Tuhan di sini. Dalam bagian ini, Yerusalem digambarkan sebagai ibu bahagia dari banyak anak—semuanya adalah orang percaya kepada Tuhan. Tidak ada kekurangan, tidak ada stres, tidak ada ketakutan, tidak ada bencana—hanya damai, penghiburan, dan sukacita.
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Karena siapa pun yang membaca Perjanjian Lama tahu betapa sering Yerusalem disalahkan atas kejahatan umatnya. Segala hal dari penyembahan berhala hingga kanibalisme terjadi di dalam tembok kota itu selama bertahun-tahun—dan akhirnya, tentu saja, penolakan terhadap Yesus Sang Mesias, dan kematian-Nya di luar tembok kota. Kita bisa saja mengira kota itu akan hancur dan ditinggalkan selamanya, bukan menjadi ibu bahagia dari anak-anak!
Apa yang terjadi?
Yang terjadi adalah pada Tuhan sendiri. Ia tahu bahwa hati manusia tidak akan berubah dengan sendirinya; kita selalu menyimpang. Tapi karena kasih dan kebaikan-Nya, Tuhan memilih untuk mengampuni dan menyelamatkan Yerusalem—dan seluruh umat manusia bersama dengannya.
Ia berkata, “Sesungguhnya, Aku akan mengalirkan damai sejahtera kepadanya seperti sungai … Seperti seseorang yang dihibur oleh ibunya, demikianlah Aku akan menghibur kamu … dan tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya.”
Tangan Tuhan akan nyata bagi hamba-hamba-Nya—dan tangan itu adalah tangan yang membawa bekas paku salib.
Karena itulah kasih Tuhan kepada kita—kasih yang lebih besar dari kasih seorang ibu kepada anaknya—kasih yang membawa Tuhan turun ke dunia ini untuk menderita, mati, dan bangkit kembali sebagai Juruselamat kita. Dan Nama-Nya di tengah-tengah kita adalah Yesus—artinya, “Tuhan adalah keselamatan.”
Karena itulah yang Ia jadikan diri-Nya bagi kita.
______________
KITA BERDOA:
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau mengasihi dan menyelamatkan kami. Tolong aku untuk selalu bersukacita di dalam Engkau. Amin.
Renungan Harian ini ditulis oleh Dr. Kari Vo.
______________
Pertanyaan Refleksi:
1. Menurutmu, dalam hal apa saja perhatian Tuhan kepada kita seperti perhatian seorang ibu yang penuh kasih?
2. Kapan saudara pernah menerima belas kasihan yang seharusnya saudara tidak layak terima?
3. Mengapa menurutmu Yesus memilih untuk tetap mempertahankan bekas luka-Nya setelah kebangkitan?
