
Lirik lagu:
“Oh, berbahagialah rumah itu, apa pun yang terjadi, jika Yesus Kristus menjadi segalanya! Sebuah rumah yang tidak sepenuhnya milik-Nya—betapa sedih, miskin, dan gelapnya rumah itu!
“Maka hari ini aku dan keluargaku akan membuat janji yang khusyuk dan berkata: Sekalipun seluruh dunia meninggalkan Firman-Nya, aku dan keluargaku akan beribadah kepada Tuhan!”
Sebagian besar orang tua ingin memberikan segala yang terbaik kepada anak-anak mereka: menyediakan rumah yang penuh kasih, makanan dan pakaian, pendidikan yang baik, dan masih banyak lagi. Hal-hal ini memang penting dan dibutuhkan, tetapi lagu himne ini menunjukkan sesuatu yang sangat sering hilang dari banyak rumah tangga. Tidak peduli seberapa banyak yang orang tua berikan kepada anak-anak mereka, sebuah rumah yang tidak sepenuhnya milik Yesus Kristus, rumah di mana Sang Juruselamat bukanlah “segala-galanya”, akan menjadi “sedih, miskin, dan gelap.”
Pemazmur menyatakan: “Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mazmur 127:1a).
Hanya rumah tangga yang dibangun di atas dasar yang teguh, yaitu Yesus Kristus, yang akan memiliki sukacita sejati, kekayaan sejati, dan pengharapan yang bertahan. Rumah seperti ini memiliki damai dan sukacita yang hanya bisa ditemukan dalam pengampunan dan hidup baru yang Yesus berikan. Harta benda mungkin bisa memuaskan hampir semua kebutuhan jasmani, tetapi kekayaan sejati ditemukan dalam anugerah Allah. Ketika rumah tangga menghadapi penderitaan dan kesedihan, hanya pengharapan di dalam Yesus yang dapat membawa keluarga itu keluar dari kegelapan.
Dengan dikuatkan oleh Roh Kudus, orang tua Kristen membimbing anak-anak mereka untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan iman. Anak-anak belajar mengasihi Yesus—Sahabat terbaik mereka dan Juruselamat yang telah mati untuk menyelamatkan mereka. Di dalam rumah yang dibangun oleh Tuhan, keluarga berdoa dan membaca Alkitab bersama, agar sejak kecil anak-anak belajar mengasihi Firman Tuhan. Orang tua dan anak-anak pergi beribadah ke gereja bersama, sehingga ibadah menjadi kebiasaan yang baik dan berkelanjutan—seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri, yang “menurut kebiasaan-Nya, masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat” (Lukas 4:16).
Yosua, yang memimpin bangsa Israel setelah kematian Musa, pernah memberikan tantangan kepada umat Allah: Apakah mereka akan menyembah ilah-ilah palsu bangsa-bangsa di sekitar mereka, atau tetap menyembah Allah Israel? Bangsa Israel menjawab dengan janji untuk melayani Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. Hari ini, setiap keluarga Kristen menghadapi pilihan yang sama: Akankah rumah kita mengikuti nilai-nilai kosong dan perilaku berdosa dari dunia ini, ataukah keluarga kita—dengan dipimpin oleh Roh Kudus—akan menyembah Tuhan Yesus dan berjalan dalam jalan-Nya?
Kita berdoa agar setiap keluarga tetap teguh dalam iman dan percaya kepada anugerah Allah, sembari membesarkan anak-anak mereka untuk hidup demi kemuliaan-Nya. Kita berdoa agar setiap rumah tangga Kristen—baik yang dihuni banyak orang maupun hanya satu orang—berani menyatakan, “Aku dan seisi rumahku akan beribadah kepada Tuhan!” (Yosua 24:15)
KITA BERDOA:
Tuhan, aku dan seisi rumahku hanya akan melayani Engkau! Amin.
Renungan harian ini ditulis oleh Dr. Carol Geisler, berdasarkan himne “Oh, Blest the House” yang terdapat pada nomor 862 di Lutheran Service Book.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apa satu hal yang bisa saudara perbaiki dalam kehidupan rumah tanggamu tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun?
2. Bagaimana dasar yang Allah berikan untuk rumah tangga yang bahagia dan sehat berbeda dengan gagasan dunia tentang hal itu?
3. Sedang mencari ide untuk mengubah rumahmu menjadi rumah yang berpusat pada Tuhan? Jika ya, kamu bisa cek berbagai sumber daya Households of Faith dari LHM di lhm.org/households.
